Bantahan Bagian 4 : Tanggapan atas tuduhan : “Ayah dan saudaranya menentang dia, ia merasa paling paham Islam, dan suka mengkafirkan umat Islam”

بسم الله الرحمن الرحيم

Dunia hanyalah tempat singgah, akhirat adalah tujuan abadi. Semoga Allah ﷻ menjadikan tulisan ini sebagai pengingat agar kita menyiapkan bekal terbaik untuk hari pertemuan dengan-Nya.

(Artikel 310 = 05/07/2025, Ba'da Dhuha)

Saluran Penulis Artikel Dakwah :
https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P

Website Penulis Artikel Dakwah :
https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/

Ustad Firanda Andirja Hafidzahullah :
https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos

Aplikasi UFA = BEKAL ISLAM :
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

Bantahan Bagian 4 : Tanggapan atas tuduhan : “Ayah dan saudaranya menentang dia, ia merasa paling paham Islam, dan suka mengkafirkan umat Islam”

(Bantahan terhadap tuduhan-tuduhan yang berkomentar tentang Serial Kitab Tauhid, terbagi dalam 12 bagian tambahan, yang merupakan kelanjutan penjelasan 6 bagian sebelumnya, total ada 18 artikel bantahannya terhadap 2 komentar panjang yang disampaikan)

📝 Pendahuluan 

Dalam setiap perjuangan menegakkan sunnah dan menghidupkan tauhid, akan selalu ada gelombang perlawanan, cacian, dan fitnah. 

Termasuk yang menimpa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, seorang ulama pembaharu abad ke-12 Hijriyah yang gigih menghidupkan ajaran tauhid sebagaimana diwariskan oleh Nabi ﷺ dan para sahabat.

Salah satu fitnah yang terus didaur ulang hingga hari ini adalah tuduhan bahwa ayah dan saudara beliau menentang dakwahnya, bahwa beliau dituduh merasa dirinya paling paham Islam, dan bahwa beliau gemar mengkafirkan sesama Muslim.

Mari kita bahas fitnah ini satu per satu berdasarkan fakta sejarah dan rujukan ilmiah, bukan emosi atau narasi warisan kolonial dan orientalis.

1. Tuduhan : “Ayah dan saudaranya menentang dia”

Jawabannya : Ini adalah kedustaan atau pemutarbalikan fakta.
  • Betul bahwa ayah beliau, yaitu Syaikh Abdul Wahhab, adalah seorang qadhi dan alim besar pada zamannya. 
  • Dan saudaranya, Sulaiman bin Abdul Wahhab, pernah menulis risalah yang mengkritik dakwah beliau. 
  • Namun itu bukan berarti permusuhan atau pengingkaran total.
  • Justru yang terjadi adalah bentuk perbedaan pandangan yang wajar dalam ruang keilmuan. 
✅ Perlu diketahui :
  1. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sangat menghormati ayahnya, bahkan tidak berani berdakwah secara terbuka saat ayahnya masih hidup, karena beliau tahu bahwa sang ayah adalah ulama yang memiliki otoritas.
  2. Setelah ayahnya wafat, barulah beliau memulai dakwah secara terbuka dengan menyebarkan tauhid dan memperingatkan dari syirik.
  3. Adapun saudara beliau, Sulaiman bin Abdul Wahhab, benar pernah mengkritik dakwah beliau dalam sebuah tulisan. 
  4. Namun sejarah mencatat bahwa akhirnya ia bertaubat, bahkan ada nukilan yang menyatakan bahwa ia menyesal atas penentangannya kepada dakwah saudaranya.
✍🏼 Hal ini dikuatkan dalam kitab “Ad-Durar as-Saniyyah”, kumpulan tulisan dan surat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab serta murid-murid beliau.

2. Tuduhan : “Ia merasa paling paham Islam”

Jawabannya : Ini tuduhan yang tidak berdasar.

Tidak ada satu pun pernyataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab-kitabnya yang menyatakan bahwa beliau paling paham Islam. 

Justru dalam berbagai tulisan, beliau selalu :
  • Mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits
  • Nabi ﷺ dengan pemahaman salaf.
  • Mengembalikan setiap permasalahan kepada pendapat para imam madzhab dan ulama mu’tabar.
  • Menghindari ta’ashub (fanatisme) terhadap nama atau kelompok, dan hanya menyeru kepada tauhid yang murni serta berlepas diri dari kesyirikan.
Dalam surat-surat beliau, seperti yang tercantum dalam Mu’allafaat asy-Syaikh, beliau menyatakan dengan tawadhu’ bahwa dakwahnya bukanlah mazhab baru, tapi mengajak kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman para sahabat.

📚 Syaikh mengatakan :

“Saya mengajak kepada agama Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Saya tidak memaksakan pendapat saya. Siapa yang datang membawa kebenaran, saya ikuti.” (Ad-Durar as-Saniyyah, jilid 1)

3. Tuduhan : “Suka mengkafirkan umat Islam”

Jawabannya : Ini adalah fitnah besar dan sering digunakan untuk menakut-nakuti umat dari dakwah tauhid.

Faktanya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sangat berhati-hati dalam masalah takfir. 

Dalam kitab beliau yang sangat terkenal, “Kasyfu asy-Syubuhat” dan “Ad-Durar as-Saniyyah”, beliau menegaskan :
  • Tidak mengkafirkan seorang Muslim kecuali setelah tegaknya hujjah (dalil dan penjelasan).
  • Tidak mengkafirkan pelaku dosa besar kecuali jika menganggap hal tersebut halal secara keyakinan.
Mengikuti kaidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam masalah takfir mu’ayyan (mengkafirkan individu) : harus ada ilmu, harus ditegakkan hujjah, dan harus hilang penghalangnya.

🔍 Contoh pernyataan beliau :

“Saya tidak mengkafirkan orang yang menyembah kubur karena kebodohan dan belum sampai kepadanya penjelasan. Saya menganggapnya seperti orang yang belum sampai padanya risalah.” (Ad-Durar as-Saniyyah, 1/104)

Dengan demikian, tuduhan bahwa beliau “mudah mengkafirkan” adalah pembohongan publik yang sengaja dihembuskan oleh musuh-musuh dakwah tauhid agar umat tetap nyaman dalam kebiasaan syirik, bid’ah, dan khurafat.

✍️ Kesimpulan
  1. Tuduhan-tuduhan terhadap pribadi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah bagian dari fitnah klasik yang terus dipelihara oleh musuh tauhid, baik dari kalangan ekstremis tasawuf, kelompok batiniyyah, Syiah, ataupun kaum liberal yang alergi terhadap dakwah tauhid yang murni.
  2. Mari kita jujur dalam menilai : apakah yang diajarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bertentangan dengan ajaran Nabi ﷺ ?
  3. Jika dakwah beliau adalah dakwah kepada tauhid, menjauhkan manusia dari syirik dan khurafat, menyuruh kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman salaf, lalu di mana letak kesalahannya ?
  4. Justru yang harus kita waspadai adalah orang-orang yang memelintir sejarah untuk menyesatkan umat dari jalan Allah ﷻ.
--------------------

⛔ Jangan jadikan tradisi, hawa nafsu duniawi, pemikiran dan gaya hidup yang bertentangan dengan aturan Allah ﷻ dijadikan lebih penting dari pada wahyu Al-Qur’an dan hadits Rasulullah ﷺ.
➡️ Semoga Allah ﷻ selalu membimbing kita dalam mencari dan mengikuti kebenaran yang diridhai-Nya.
🔄 Silakan bagikan artikel ini ke siapa pun dan di berbagai platform media sosial.
✅ Semoga menjadi amal jariyah dan jalan hidayah bagi yang membacanya. Niatkan hanya berharap PAHALA dari Allah ﷻ.

📚 Rujukan Ilmiah Tambahan :

Untuk memperdalam pemahaman Islam yang lurus, silakan merujuk kepada kajian-kajian para ustadz Ahlus Sunnah wal Jama‘ah yang bermanhaj salaf, berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Sahabat, Tabi‘in, dan Tabi‘ut Tabi‘in.

🔗 Rekomendasi utama, Kajian Aqidah ilmiah : Ustad Dr. Firanda Andirja, Hafidzahullah 🤲

👨‍🏫 Asatidzah Manhaj Salaf lainnya :
  • Ustad Dr. Syafiq Riza Basalamah – Fiqih
  • Ustad Dr. Muhammad Arifin Badri – Fiqih
  • Ustad Dr. Khalid Basalamah – Muamalah
  • Ustad Dr. Abdullah Roy – Aqidah
  • Ustad Dr. Ali Musri Semjan Putra – Aqidah
  • Ustad Dr. Musyaffa’ Ad Dariny – Fiqih
  • Ustad Dr. Erwandi Tarmizi – Muamalah
  • Ustad Dr. Sofyan Baswedan – Hadits
  • Ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas رحمه الله – Aqidah
  • Ustad Dzulqarnain M. Sunusi – Fiqih
  • Ustad Afifi Abdul Wadud – Aqidah
  • Ustad Ammi Nur Baits ST – Muamalah
  • Ustad dr. Raehanul Bahraen – Fiqih
  • Ada ratusan Asatidzah lain di berbagai kota 
📺 Rekomendasi channel : Rodja TV, Ashiil TV, dan channel dakwah manhaj salaf lainnya.

📩 Bila ada pertanyaan, ingin diskusi :

👉 Balas di postingan WhatsApp
💻 Atau tulis komentar di website
🤲 InsyaAllah ditanggapi segera 

💡 Penegasan :

Kebenaran bukan milik individu, bukan pula milik kelompok tertentu, tapi :

➡️ Kebenaran hanya milik Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.
✅ Ikutilah yang sesuai dalil wahyu, bukan hanya karena nama besar atau tradisi masyarakat.
✅ Jangan berfanatik pada tokoh, tapi lihat ilmu dan kebenaran yang ia sampaikan.

Wallāhu A‘lam, hanya Allah ﷻ yang Mahatahu kebenaran 🤲 

Komentar