Cara berpikir matematis-dogmatis

Bismillahirrahmanirrahim 

Materi Dakwah HBI No. 1.642

📣 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
📥 WhatsApp Grup 2 : https://chat.whatsapp.com/EM91hf2UDojFAFKWnNdGJ1
💻 Website : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/

⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel

▶️ YouTube (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
📑 Ebook Terbaru (UFA) : Rambu-Rambu Dakwah : https://s.id/RambuDakwah

--------

📢 Komentar grup WhatsApp :

+62 813-3480-XXXX : Cara berpikir matematis-dogmatis memang demikian, namun adalah jelas sahabat nabi yg pemabuk pun masuk surga. Dan sebaliknya sahabat nabi yg membunuh Syaidinna Ali karena merasa paling benar walaupun hafid juga tempatnya di neraka dg gigi gerahamnya sebesar uhud...bahkan tak sedikit dikisahkan banyak yg dimata orang sahid dan juga ulama tersohor nyatanya adalah masuk daftar awal yg masuk neraka...Ternyata, ridho Allah dan rahmah Allah sampai akhirlah yg amat menentukan...Dan disahkan pula oleh para ulama bahwa orang disaat sakaratul mautpun bisa tergelincir ..Walhasil, semoga kita sekalian khusnul khotimah...🤲🤲🤲

-----------

🎯 Jawaban Komentar grup WhatsApp :

Ada bagian yang benar dari komentar antum : kita sangat membutuhkan rahmat Allah ﷻ dan harus takut terhadap buruknya akhir kehidupan. Nabi ﷺ bersabda :

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Wa innamal-a‘mālu bil-khawātīm.

“Sesungguhnya amal-amal itu ditentukan dengan akhirnya.” (HR. al-Bukhari no. 6607, shahih).

Tetapi dari sini jangan melompat kepada kesimpulan bahwa ukuran benar-salah dalam agama menjadi tidak jelas atau sekadar “matematis-dogmatis”. Rahmat Allah ﷻ, keikhlasan, iman, amal dan akhir kehidupan bukan hal yang saling meniadakan.

Bahkan beberapa contoh yang disebut perlu diluruskan.

Pertama, tentang Sahabat yang berulang kali minum khamr. Hadits shahih memang menceritakan ‘Abdullah yang dihukum karena minum. Ketika seseorang melaknatnya, Nabi ﷺ melarang dan bersabda bahwa ia mencintai Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Tetapi hadits itu tidak berbunyi “pemabuk itu dipastikan masuk surga”. Dan perhatikan: kecintaannya kepada Allah ﷻ dan Rasul ﷺ tidak membuat khamr menjadi halal; ia tetap dihukum atas dosanya. (HR. al-Bukhari no. 6780).

Kedua, pembunuh ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, yaitu ‘Abdurrahman bin Muljam, bukan Sahabat Nabi ﷺ sebagaimana disebut dalam komentar tersebut. Sumber biografi menyebutnya seorang pembaca Al-Qur’an yang kemudian menjadi Khawarij. Adz-Dzahabi Rahimahullah (w. 748 H) menyebutnya khārijī muftar dan justru tidak memastikan secara mutlak nasib akhirnya; urusannya diserahkan kepada Allah ﷻ.

Adapun hadits :

ضِرْسُ الْكَافِرِ مِثْلُ أُحُدٍ

“Geraham orang kafir seperti Gunung Uhud.”

Itu HR. Muslim no. 2851, shahih, dan lafaznya berbicara tentang orang kafir di neraka, bukan khusus tentang Ibn Muljam. Jadi tidak boleh begitu saja ditempelkan kepadanya tanpa dalil yang menetapkan kekafirannya.

Ketiga, benar ada hadits tentang orang yang tampaknya mati syahid, orang berilmu / pembaca Al-Qur’an, dan orang dermawan yang pertama kali diadili lalu dilemparkan ke neraka. Tetapi sebab yang disebut Nabi ﷺ sangat jelas : mereka beramal agar dipuji manusia, bukan karena Allah ﷻ. (HR. Muslim no. 1905, shahih).

Jadi hadits itu bukan bukti bahwa kebenaran agama tidak mempunyai ukuran. Justru sebaliknya : ia menunjukkan bahwa amal yang secara lahir benar pun harus disertai ikhlas.

Dan benar pula, manusia tidak masuk surga semata-mata karena merasa amalnya cukup. Nabi ﷺ bersabda bahwa tidak seorang pun masuk surga hanya dengan amalnya, kecuali Allah ﷻ meliputinya dengan karunia dan rahmat-Nya. (HR. Muslim no. 2816).

Kesimpulannya :

Yang benar : rahmat Allah ﷻ, keikhlasan, iman dan husnul khatimah sangat menentukan.

Yang tidak benar : menjadikan hal itu alasan seolah-olah dosa tidak lagi dapat disebut dosa, penyimpangan tidak dapat dinilai dengan dalil, atau semua orang boleh dipastikan surga / neraka berdasarkan dugaan kita.

Justru sikap yang benar adalah : nilai ajaran dan perbuatan dengan dalil, jangan merasa aman dengan amal sendiri, jangan memastikan akhir seseorang tanpa nash, dan terus memohon kepada Allah ﷻ husnul khatimah serta rahmat-Nya.

Semoga Allah ﷻ mewafatkan kita di atas iman dan Sunnah. Āmīn.

Wallahu A'lam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

❓ Apakah Orang Tua Nabi Muhammad ﷺ Masuk Surga ?

Menelan Sperma Suami : Antara Nafsu dan Batasan Syariat

🎯 Membongkar Logika “Semua Benar” dalam Agama