📢 Ketika Dakwah Dibalas dengan Ejekan, Caci Maki, dan Tuduhan

Bismillahirrahmanirrahim 

Materi Dakwah HBI No. 1.739

📣 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
📥 WhatsApp Grup 2 : https://chat.whatsapp.com/EM91hf2UDojFAFKWnNdGJ1
💻 Website : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/

⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel

▶️ YouTube (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
📑 Ebook Terbaru (UFA) : Rambu-Rambu Dakwah : https://s.id/RambuDakwah

--------

📢 Ketika Dakwah Dibalas dengan Ejekan, Caci Maki, dan Tuduhan

1. Pembukaan

Dalam perjalanan dakwah, seseorang tidak hanya akan bertemu dengan orang yang menerima nasihat. Ia juga akan bertemu dengan orang yang menolak, mengejek, mencaci, menuduh, bahkan memfitnah.

Kadang yang disampaikan adalah nasihat yang jelas: kembali kepada Al-Qur’an, mengikuti Sunnah, meninggalkan maksiat, menjauhi bid’ah, menjauhi syirik, dan mendahulukan aturan Allah ﷻ di atas tradisi manusia.

Namun justru karena nasihat itu menyentuh kebiasaan yang sudah lama dibela, sebagian orang merasa terganggu. Mereka tidak selalu menjawab dengan dalil. Kadang mereka menjawab dengan tawa, sindiran, penghinaan, tuduhan, atau memelintir maksud dakwah.

Ini bukan hal baru. Para nabi ‘alaihimus salam pun mengalami hal yang sama.

2. Ejekan terhadap Dakwah Bukan Hal Baru

Allah ﷻ berfirman : “Sungguh, telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum engkau, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan mereka balasan dari apa yang dahulu mereka perolok-olokkan.” (QS. Al-An’am: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa ejekan terhadap orang yang membawa kebenaran bukan kejadian baru. Sejak dahulu, orang yang mengajak kepada tauhid, ketaatan, dan meninggalkan kebatilan sering dianggap aneh, keras, memecah belah, atau tidak menghormati tradisi.

Maka ketika seorang dai dicibir, itu tidak otomatis menunjukkan dakwahnya salah. Kadang justru kebenaran itu menyentuh titik yang paling sulit dilepaskan manusia : kebiasaan, gengsi, tokoh, keluarga, tradisi, dan hawa nafsu.

Tetapi ini juga bukan alasan untuk merasa selalu benar tanpa muhasabah. Seorang dai tetap harus memeriksa: apakah yang ia sampaikan benar ? Apakah dalilnya kuat ? Apakah caranya beradab ? Apakah bahasanya tepat ? Apakah ia membedakan antara hukum amalan dan hukum pelaku ?

Kalau semua itu sudah dijaga, lalu masih dicaci dan difitnah, maka bersabarlah. Itu bagian dari ujian dakwah.

3. Mengapa Banyak Orang Tidak Nyaman dengan Nasihat ?

Karena nasihat agama sering menyentuh sesuatu yang sudah lama dianggap normal.

* Ketika seseorang menasihati tentang riba, sebagian orang merasa bisnisnya diserang.
* Ketika seseorang menasihati tentang musik, sebagian orang merasa hobinya diserang.
* Ketika seseorang menasihati tentang bid’ah, sebagian orang merasa tradisinya diserang.
* Ketika seseorang menasihati tentang syirik dan ghuluw terhadap kubur, sebagian orang merasa leluhurnya direndahkan.
* Ketika seseorang berkata, “Aturan Allah ﷻ wajib didahulukan daripada aturan manusia jika bertentangan,” sebagian orang merasa cara hidupnya sedang dihakimi.

Padahal yang sedang disampaikan bukan kebencian pribadi. Yang sedang disampaikan adalah ajakan agar hidup ditimbang dengan wahyu.

Allah ﷻ berfirman : “Tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka masih memiliki pilihan lain dalam urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Ayat ini mengunci prinsip besar : jika Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ sudah menetapkan suatu hukum, maka seorang muslim tidak boleh mendahulukan tradisi, selera, perasaan, tokoh, atau aturan manusia yang bertentangan dengannya.

4. Tradisi Sering Lebih Sulit Ditinggalkan daripada Kesalahan Baru

Allah ﷻ berfirman : “Apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah Allah turunkan, mereka menjawab: Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.” (QS. Al-Baqarah: 170)

Ayat ini menunjukkan penyakit lama : ketika manusia lebih berat meninggalkan warisan kebiasaan daripada tunduk kepada dalil.

Tradisi yang salah sering terasa suci hanya karena sudah lama dilakukan. Padahal lamanya sebuah amalan dilakukan tidak otomatis menjadikannya benar. Banyaknya orang yang membela juga tidak otomatis menjadikannya sesuai syariat.

Dalam agama, ukuran benar bukan “sudah biasa”, bukan “dari dulu begitu”, bukan “banyak yang melakukan”, bukan “ulama kampung kami mengajarkan”, tetapi : apa dalilnya dan bagaimana pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum terhadap dalil tersebut ?

Karena itu, orang yang mengajak kembali kepada dalil sering dianggap mengganggu. Bukan karena dalilnya salah, tetapi karena dalil itu membongkar kenyamanan yang sudah lama dibangun di atas kebiasaan.

5. Jangan Balas Ejekan dengan Ejekan

Walaupun dicaci, difitnah, atau direndahkan, seorang dai tidak boleh membalas keburukan dengan keburukan yang sama.

Allah ﷻ berfirman : “Bersabarlah atas apa yang mereka katakan, dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzzammil: 10)

Ini pelajaran besar. Tidak semua ucapan harus dibalas. Tidak semua tuduhan harus dikejar sampai orang mengaku salah. Tidak semua ejekan layak dijadikan perdebatan panjang.

Kadang jawaban paling kuat adalah diam setelah kebenaran dijelaskan.

Diam dalam kondisi seperti ini bukan berarti kalah. Diam bisa menjadi cara menutup pintu fitnah. Diam bisa menjadi bentuk menjaga kehormatan dakwah. Diam bisa menjadi bukti bahwa kita tidak berdakwah karena ingin menang debat, tetapi karena ingin menyampaikan kebenaran.

Rasulullah ﷺ bersabda : “Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609, shahih)

Maka ketika hati panas karena dihina, difitnah, atau direndahkan, di situlah kekuatan iman diuji. Bukan hanya berani berbicara, tetapi juga mampu menahan diri ketika balasan keras terasa sangat mungkin dilakukan.

6. Fitnah dan Tuduhan Tanpa Tabayyun adalah Kezaliman

Sebagian orang tidak cukup menolak nasihat. Mereka menuduh, menyebarkan kabar, dan membangun prasangka buruk tanpa bukti.

Padahal Allah ﷻ berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena kebodohan, lalu kalian menyesal atas perbuatan kalian.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini adalah kaidah besar dalam menjaga kehormatan manusia. Tuduhan tidak boleh dibangun di atas “katanya”, “dengar-dengar”, “sepertinya”, atau “mungkin begitu”. Apalagi jika tuduhan itu menjatuhkan kehormatan seorang muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda : “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim no. 5, shahih)

Hadits ini sangat penting. Tidak semua yang didengar boleh disebarkan. Tidak semua kabar boleh dipercaya. Tidak semua cerita boleh dijadikan dasar untuk mencaci, menyerang, atau menjatuhkan seseorang.

Kalau seseorang menuduh tanpa bukti, lalu tidak mau tabayyun, kemudian diam ketika tuduhannya terbantahkan, maka masalahnya bukan lagi sekadar perbedaan pendapat. Itu sudah masuk wilayah kezaliman terhadap kehormatan seorang muslim.

7. Dakwah Harus Tegas, Tetapi Tetap dengan Hikmah

Allah ﷻ berfirman : “Serulah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Hikmah bukan berarti melembutkan yang haram menjadi halal. Hikmah bukan berarti menyamarkan bid’ah agar orang tidak tersinggung. Hikmah bukan berarti membiarkan syirik dengan alasan menjaga perasaan.

Hikmah adalah menempatkan kebenaran pada cara, waktu, tempat, dan kadar yang paling mendekatkan manusia kepada petunjuk.

Maka seorang dai harus menggabungkan dua hal :

* Tegas dalam kebenaran.
* Beradab dalam penyampaian.

Jangan sampai karena ingin lembut, akhirnya syariat dikaburkan. Tetapi jangan pula karena ingin tegas, akhirnya lisan menjadi kasar tanpa kebutuhan.

Dakwah yang benar bukan sekadar menghantam kebatilan. Dakwah yang benar juga membimbing manusia agar mau kembali kepada Allah ﷻ.

8. Kapan Harus Menjawab dan Kapan Harus Diam ?

Tidak semua komentar harus dijawab.

* Ada orang yang bertanya karena ingin paham. Jawab dengan lembut dan dalil.
* Ada orang yang menyampaikan syubhat. Jawab dengan tegas dan ilmiah.
* Ada orang yang hanya mengejek. Jangan habiskan tenaga.
* Ada orang yang memfitnah. Luruskan sekali jika perlu, simpan bukti, lalu serahkan kepada Allah ﷻ.
* Ada orang yang hanya ingin memperpanjang debat. Tinggalkan.

Allah ﷻ berfirman : “Berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Berpaling di sini bukan berarti meninggalkan dakwah. Tetapi tidak memberi panggung kepada orang yang tujuannya bukan mencari kebenaran.

Sebab sebagian orang jika dijawab dengan dalil, ia pindah ke ejekan. Jika dijawab dengan adab, ia pindah ke tuduhan. Jika diminta bukti, ia pindah ke serangan pribadi. Orang seperti ini tidak sedang mencari kebenaran, tetapi mencari celah untuk menyerang.

9. Jangan Takut Disebut Aneh

Rasulullah ﷺ bersabda : “Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145, shahih)

Orang yang berusaha taat di tengah masyarakat yang jauh dari syariat kadang akan terlihat asing.

* Menjaga tauhid dianggap keras.
* Menolak bid’ah dianggap memecah belah.
* Meninggalkan musik dianggap berlebihan.
* Menolak riba dianggap menyulitkan hidup.
* Menjaga aurat dianggap fanatik.
* Menimbang amalan dengan dalil dianggap merasa paling benar.

Padahal seorang muslim memang tidak boleh menjadikan ridha manusia sebagai tujuan utama. Yang dicari adalah ridha Allah ﷻ.

Kalau manusia ridha tetapi Allah ﷻ murka, itu kerugian besar. Kalau sebagian manusia mencela tetapi Allah ﷻ meridhai, itu keselamatan.

10. Mengalah Bukan Berarti Kalah

Dalam sebagian keadaan, seseorang perlu mundur dari perdebatan atau keluar dari tempat yang tidak lagi maslahat. Bukan karena kebenaran kalah, tetapi karena pertikaian sudah tidak sehat.

Allah ﷻ berfirman : “Barang siapa memaafkan dan memperbaiki keadaan, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)

Ayat ini memberi penghiburan besar. Ketika seseorang dizalimi, lalu ia memilih tidak memperpanjang pertikaian demi mencegah kerusakan yang lebih besar, maka urusannya tidak hilang. Allah ﷻ yang mencatat. Allah ﷻ yang membalas. Allah ﷻ yang mengetahui siapa yang benar dan siapa yang berdusta.

* Mengalah dari pertikaian bukan berarti mengalah dari kebenaran.
* Diam dari memperpanjang konflik bukan berarti membenarkan tuduhan.
* Menjauh dari forum yang penuh ejekan bukan berarti meninggalkan dakwah.

Dakwah masih bisa dilanjutkan di tempat yang lebih maslahat, melalui tulisan, channel, blog, buku, kajian, nasihat pribadi, dan orang-orang yang memang ingin mencari kebenaran.

11. Pelajaran Penting bagi Seorang Dai

* Pertama, ikhlaskan niat. Jangan berdakwah agar dipuji, diakui, atau menang debat. Berdakwahlah karena mengharap ridha Allah ﷻ.
* Kedua, kuatkan ilmu. Jangan menyampaikan sesuatu tanpa dalil. Jika tidak tahu, katakan tidak tahu.
* Ketiga, jaga adab. Kebenaran tidak perlu dibela dengan akhlak yang buruk.
* Keempat, bedakan antara hukum amalan dan hukum pelaku. Amalan bisa disebut bid’ah, syirik, maksiat, atau batil sesuai dalil. Tetapi menghukumi individu tertentu butuh rincian, syarat, penghalang, dan bukan wilayah emosi.
* Kelima, jangan kejar semua komentar. Fokus kepada yang mau mengambil manfaat. Banyak pembaca diam yang sebenarnya sedang memperhatikan.
* Keenam, jaga hati dari dendam. Mendoakan hidayah bagi orang yang menyakiti adalah kemuliaan. Tetapi menjaga jarak dari orang yang suka memfitnah juga bagian dari kehati-hatian.
* Ketujuh, serahkan hasil kepada Allah ﷻ. Tugas manusia menyampaikan. Hidayah di tangan Allah ﷻ.

12. Penutup

Ejekan, caci maki, tuduhan, dan fitnah dalam dakwah bukan hal baru. Para nabi ‘alaihimus salam pun mengalaminya. Maka seorang dai tidak boleh goyah hanya karena manusia menolak.

Namun ia juga tidak boleh kehilangan adab. Ia harus tetap menimbang langkahnya dengan ilmu, hikmah, dan kesabaran.

Jika kebenaran telah disampaikan dengan dalil dan adab, lalu tetap dibalas dengan ejekan, maka jangan hancurkan hati dengan mengejar ridha manusia.

Peganglah prinsip ini :

* Dakwah untuk mencari ridha Allah ﷻ, bukan tepuk tangan manusia.
* Kebenaran disampaikan dengan dalil, bukan emosi.
* Tradisi ditimbang dengan wahyu, bukan wahyu ditundukkan kepada tradisi.
* Fitnah tidak harus dibalas dengan fitnah.
* Mengalah demi meredam kerusakan bukan berarti kalah dari kebatilan.

Semoga Allah ﷻ meneguhkan hati kita di atas tauhid dan Sunnah, menjaga lisan kita dari kezaliman, membersihkan hati kita dari dendam, dan menjadikan setiap ujian dakwah sebagai sebab naiknya derajat serta bertambahnya keikhlasan. Aamiin.

Wallahu A'lam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

❓ Apakah Orang Tua Nabi Muhammad ﷺ Masuk Surga ?

Menelan Sperma Suami : Antara Nafsu dan Batasan Syariat

🎯 Membongkar Logika “Semua Benar” dalam Agama