Ketika Dakwah Dihadang Tradisi : Menjawab Penolakan terhadap Sunnah Azan Jum’at
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Semoga Allah ﷻ berikan Hidayah
(Artikel 180 = 23/05/2025, Ba'da Magrib)
Website Artikel Dakwah Penulis :
https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
Ustad Firanda Andirja Hafidzahullah :
https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
Aplikasi UFA = BEKAL ISLAM :
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
Ketika Dakwah Dihadang Tradisi : Menjawab Penolakan terhadap Sunnah Azan Jum’at
Pendahuluan
Salah satu ujian dalam berdakwah adalah ketika kebenaran yang kita sampaikan tidak ditolak karena lemah dalil, tapi ditolak karena benturan dengan tradisi yang telah mengakar.
Sebagian orang menolak ilmu yang sesuai dalil dengan alasan :
- “Kami sudah terbiasa begini dari dulu.
- “Kamu sekolah agama saja tidak, jangan ajari kami.”
- “Orang tua kami sudah lama melakukan ini, dan mereka lebih tahu agama dari kamu.”
Ucapan seperti ini bukan hanya terdengar saat kita mengoreksi tata cara azan Jum’at, tapi juga dalam banyak penyimpangan agama yang dibungkus “kebiasaan turun-temurun”.
Lalu, bagaimana sikap kita ? Bagaimana kita menjawab mereka secara ilmiah dan berdalil ?
1. Kebenaran Tidak Diukur dari Gelar, Tapi dari Dalil
Dalam Islam, kebenaran bukan diukur dari siapa yang menyampaikan, tapi dari apa yang ia sampaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda : "Sampaikan dariku walau satu ayat." (HR. Bukhari no. 3461)
Kalimat ini menunjukkan bahwa siapa saja yang paham kebenaran, wajib menyampaikannya, meski ia bukan lulusan pesantren atau kampus agama.
📌 Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : "Kebenaran itu tidak diketahui dari orangnya. Tapi orang itulah yang diukur dengan kebenaran." (I’lamul Muwaqqi’in, 1/86)
➡ Jadi, bukan masalah yang menyampaikan ilmu tersebut belajar agama di mana, tapi apakah yang disampaikan tersebut apakah sesuai Al-Qur’an, Hadits, dan pemahaman para ulama atau tidak ?.
2. Tradisi Tidak Selalu Benar
Allah ﷻ telah mengingatkan bahwa kebiasaan nenek moyang bukanlah standar kebenaran :
Allah ﷻ Berfirman : "Dan apabila dikatakan kepada mereka : Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Mereka menjawab : Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami. Padahal nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah 2:170)
📌 Ayat ini sangat jelas menegur orang-orang yang fanatik terhadap tradisi meski menyimpang dari wahyu.
➡ Maka jika azan dua kali dilakukan dengan cara yang tidak sesuai dalil, walaupun sudah jadi tradisi, maka itu bukan hujjah, bahkan harus ditinggalkan.
3. Umat Terdahulu Bisa Keliru
Banyak orang beralasan :
“Generasi sebelum kami juga melakukannya. Apa kamu merasa lebih tahu dari mereka ?”
Jawabannya :
- Benar, kita menghormati generasi sebelumnya, tapi bukan berarti mereka tidak mungkin salah.
- Bahkan para sahabat Nabi ﷺ pun berbeda pendapat dalam beberapa masalah, apalagi orang awam atau masyarakat masa kini.
Imam Malik rahimahullah berkata : "Setiap orang bisa diambil dan ditolak pendapatnya, kecuali penghuni kubur ini." (Sambil menunjuk ke kuburan Nabi ﷺ) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa’)
➡ Maka, loyalitas kita bukan kepada nenek moyang, bukan pula kepada tokoh masyarakat, tapi kepada Rasulullah ﷺ dan sunnahnya.
4. Kita Wajib Menyampaikan, Bukan Memaksa
Allah ﷻ berfirman : "Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (risalah)." (QS. Al-Ma'idah: 99)
Begitu juga kewajiban kita sebagai penyeru kebenaran: menyampaikan dengan ilmu dan hikmah, bukan memaksa.
Jika mereka menolak, itu menjadi tanggung jawab mereka di hadapan Allah ﷻ.
Allah ﷻ Berfirman : "Dan katakanlah: Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka barang siapa yang mau (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang tidak mau (kafir) maka biarlah ia kafir." (QS. Al-Kahfi 18:29)
➡ Kita tetap bersabar, tetap mendakwahi, dan jangan menyerah hanya karena ditolak.
5. Sikap Bijak dan Teguh : Lemah Lembut Tapi Tidak Ikut Menyimpang
Rasulullah ﷺ adalah suri teladan dalam berdakwah dengan lemah lembut.
Allah ﷻ berfirman : "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu." (QS. Ali Imran 3:159)
- Namun kelembutan tidak berarti mengikuti kesalahan.
- Justru dengan kelembutan dan keteguhan prinsip, kebenaran akan lebih mudah diterima.
➡ Maka tetaplah bersikap baik, jangan mencela, jangan kasar, tapi jangan ikut dalam tata cara yang keliru.
Kita tetap hadir ke masjid atau cari masjid lain, tapi tetap pegang prinsip : ini bukan cara yang diajarkan Nabi ﷺ.
6. Bantahan Ilmiah Terakhir
Jika mereka berkata :
“Kami lebih yakin pada tradisi dan ulama kami, dari pada kamu yang tak pernah sekolah agama.”
Jawabannya :
- Apakah ulama kita lebih utama dari Nabi Muhammad ﷺ ?
- Apakah ulama kita boleh mengubah tata cara ibadah yang diajarkan Nabi ﷺ ?
- Kalau memang ada ulama yang menyimpang dari dalil, bukankah kita wajib memilih pendapat ulama yang berdalil ?
Allah ﷻ Berfirman : "Maka hendaklah kamu takut kepada Allah dan janganlah kamu menyelisihi perintah Rasul, karena akan datang fitnah atau azab yang pedih." (QS. An-Nur: 63)
Kesimpulan :
- ✅ Tugas kita adalah menyampaikan kebenaran, bukan mencari persetujuan manusia.
- ✅ Kebenaran tidak tergantung pada gelar, tapi pada dalil.
- ✅ Tradisi bisa benar, bisa juga salah. Ukurannya adalah Al-Qur’an dan Sunnah.
- ✅ Tetaplah bersabar dan terus berdakwah dengan ilmu, hikmah, dan kesabaran.
Allah ﷻ Berfirman : "Dan bersabarlah atas apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik." (QS. Al-Muzzammil: 10)
Semoga Allah ﷻ meneguhkan hati kita di atas kebenaran, memberi taufiq kepada para pengurus masjid dimana saja dan masyarakat untuk kembali kepada sunnah, dan menjadikan dakwah kita sebagai amal jariyah di akhirat.
--------------------
⛔ Jangan jadikan tradisi, hawa nafsu duniawi, pemikiran dan gaya hidup yang bertentangan dengan aturan Allah ﷻ dijadikan lebih penting dari pada wahyu Al-Qur’an dan hadits Rasulullah ﷺ.
➡️ Semoga Allah ﷻ selalu membimbing kita dalam mencari dan mengikuti kebenaran yang diridhai-Nya.
🔄 Silakan bagikan artikel ini ke siapa pun dan di berbagai platform media sosial.
✅ Semoga menjadi amal jariyah dan jalan hidayah bagi yang membacanya. Niatkan hanya berharap PAHALA dari Allah ﷻ.
📚 Rujukan Ilmiah Tambahan :
Untuk memperdalam pemahaman Islam yang lurus, silakan merujuk kepada kajian-kajian para ustadz Ahlus Sunnah wal Jama‘ah yang bermanhaj salaf, berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Sahabat, Tabi‘in, dan Tabi‘ut Tabi‘in.
🔗 Rekomendasi utama, Kajian Aqidah ilmiah : Ustad Dr. Firanda Andirja, Hafidzahullah 🤲
👨🏫 Asatidzah Manhaj Salaf lainnya :
- Ustad Dr. Syafiq Riza Basalamah – Fiqih
- Ustad Dr. Muhammad Arifin Badri – Fiqih
- Ustad Dr. Khalid Basalamah – Muamalah
- Ustad Dr. Abdullah Roy – Aqidah
- Ustad Dr. Ali Musri Semjan Putra – Aqidah
- Ustad Dr. Musyaffa’ Ad Dariny – Fiqih
- Ustad Dr. Erwandi Tarmizi – Muamalah
- Ustad Dr. Sofyan Baswedan – Hadits
- Ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas رحمه الله – Aqidah
- Ustad Dzulqarnain M. Sunusi – Fiqih
- Ustad Afifi Abdul Wadud – Aqidah
- Ustad Ammi Nur Baits ST – Muamalah
- Ustad dr. Raehanul Bahraen – Fiqih
- Ada ratusan Asatidzah lain di berbagai kota
📺 Rekomendasi channel : Rodja TV, Ashiil TV, dan channel dakwah manhaj salaf lainnya.
📩 Bila ada pertanyaan, ingin diskusi :
👉 Balas di postingan WhatsApp
💻 Atau tulis komentar di website
🤲 InsyaAllah ditanggapi segera
💡 Penegasan :
Kebenaran bukan milik individu, bukan pula milik kelompok tertentu, tapi :
➡️ Kebenaran hanya milik Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.
✅ Ikutilah yang sesuai dalil wahyu, bukan hanya karena nama besar atau tradisi masyarakat.
✅ Jangan berfanatik pada tokoh, tapi lihat ilmu dan kebenaran yang ia sampaikan.
Wallāhu A‘lam, hanya Allah ﷻ yang Mahatahu kebenaran 🤲
Komentar
Posting Komentar