Bantahan Bagian 5 : Fitnah terhadap Metode / Manhaj Tauhid (Pembagian Tauhid Tiga)
بسم الله الرحمن الرحيم
Semoga Allah ﷻ memberikan hidayah kepada penulis pribadi, keluarga, dan seluruh kaum muslimin agar istiqamah di atas kebenaran.
(Artikel 311 = 05/07/2025, Ba'da Dzuhur)
Saluran Penulis Artikel Dakwah :
https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
Website Penulis Artikel Dakwah :
https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
Ustad Firanda Andirja Hafidzahullah :
https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
Aplikasi UFA = BEKAL ISLAM :
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
Bantahan Bagian 5 : Fitnah terhadap Metode / Manhaj Tauhid (Pembagian Tauhid Tiga)
(Bantahan terhadap tuduhan-tuduhan yang berkomentar tentang Serial Kitab Tauhid, terbagi dalam 12 bagian tambahan, yang merupakan kelanjutan penjelasan 6 bagian sebelumnya, total ada 18 artikel bantahannya terhadap 2 komentar panjang yang disampaikan)
Isi Tuduhannya :
“Tauhid versi Wahabi adalah buatannya sendiri dan tidak diajarkan Nabi.”
Ini adalah tuduhan klasik yang kerap dilontarkan oleh mereka yang tidak memahami hakikat dakwah tauhid dan sejarah kodifikasinya.
Mereka mengklaim bahwa pembagian tauhid menjadi tiga bagian – Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat – adalah bid’ah baru yang diciptakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, atau oleh Ibnu Taimiyyah, yang mereka cap sebagai “bapak Wahabi.”
Padahal, tuduhan ini jelas batil dan menunjukkan ketidaktahuan terhadap ilmu dan sejarah Islam.
✅ 1. Asal Usul Pembagian Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, Asma wa Shifat
Pertama-tama, kita harus memahami bahwa pembagian tauhid ini bukanlah tasyri’ (pembuatan syariat baru), tapi hanyalah tadwin dan taqsim (penulisan dan klasifikasi materi untuk memudahkan pemahaman).
Tidak berbeda dengan ilmu tafsir, ilmu ushul fiqh, ilmu musthalah hadits, yang juga tidak diberi nama oleh Nabi ﷺ secara khusus, tetapi telah dipraktikkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya secara makna dan esensi.
Pembagian tauhid menjadi tiga bagian bukanlah hasil ijtihad baru dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, bahkan sudah disebutkan oleh ulama sebelum beliau, jauh sebelum Ibnu Taimiyyah sekalipun.
Misalnya :
📌 Imam Ibn Mandah (wafat 395 H)
Beliau menulis kitab berjudul :
"Kitab at-Tauhid", yang membahas tiga jenis tauhid :
- Tauhid Rububiyyah
- Tauhid Uluhiyyah
- Tauhid Asma’ wa Shifat
📌 Imam Ibnu Khuzaimah (wafat 311 H)
Beliau juga menulis kitab "Kitab at-Tauhid wa Ithbat Shifat Rabb", yang mengandung pembahasan tauhid secara terpisah dalam tiga aspek.
📌 Imam Abu Hatim ar-Razi dan Abu Zur’ah ar-Razi
Dalam ‘Aqidahnya yang terkenal, mereka memaparkan prinsip-prinsip yang membuktikan bahwa pembagian tauhid itu bukan hal baru, melainkan pengklasifikasian ilmiah dari pemahaman salafus shalih terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits.
👉 Bahkan Imam asy-Syafi’i, saat berbicara tentang tauhid, mengisyaratkan prinsip yang menjadi dasar pembagian tersebut.
Beliau mengatakan : “Saya mengimani Allah ﷻ, Arsy-Nya di atas langit, dan Dia turun ke langit dunia tanpa takwil dan tanpa tasybih.”
Ini jelas mengarah pada tauhid asma wa shifat.
✅ 2. Dalil dari Al-Qur’an yang Menguatkan Pembagian Ini
Allah ﷻ menyebutkan dalam banyak ayat tiga jenis tauhid ini secara terpisah dan berulang :
📌 Tauhid Rububiyyah :
Allah ﷻ berfirman : “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (📖 QS. Az-Zumar: 62)
Ini menunjukkan bahwa hanya Allah ﷻ yang menciptakan, mengatur, memberi rezeki — tauhid rububiyyah.
📌 Tauhid Uluhiyyah :
Allah ﷻ berfirman : “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (📖 QS. Al-Baqarah: 163)
Ini menunjukkan bahwa hanya Allah ﷻ yang berhak diibadahi — tauhid uluhiyyah.
📌 Tauhid Asma wa Shifat :
Allah ﷻ berfirman : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (📖 QS. Asy-Syura: 11)
Ayat ini mengandung prinsip tauhid dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ, yaitu menetapkan apa yang Allah ﷻ tetapkan untuk diri-Nya tanpa tahrif (penyimpangan), ta’thil (penolakan), takyif (membayangkan bentuk), atau tamtsil (menyerupakan).
✅ 3. Penjelasan Para Ulama Salaf
📌 Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
“Tauhid yang dibawa oleh para Rasul adalah pengesaan Allah dalam uluhiyyah, yaitu beribadah hanya kepada-Nya semata dan meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya. Dan ini merupakan isi dakwah semua Rasul.” (Sumber: Majmu’ al-Fatawa, 1/124)
Beliau juga menegaskan bahwa kaum musyrikin di zaman Nabi ﷺ tidak mengingkari tauhid rububiyyah, tetapi mereka menyekutukan Allah ﷻ dalam uluhiyyah.
Maka, penekanan dakwah beliau adalah pada tauhid ibadah (uluhiyyah).
✅ 4. Kenapa Harus Dibagi Tiga ? Apakah Ini Wajib ?
Pembagian ini bukan syarat sah iman atau ibadah, tetapi alat bantu ilmiah dalam memudahkan proses belajar agar umat Islam mudah memahami jenis-jenis pengesaan Allah ﷻ :
- Agar tahu bahwa hanya Allah ﷻ yang mencipta = Rububiyyah
- Agar tahu bahwa hanya Allah ﷻ yang berhak disembah = Uluhiyyah
- Agar tahu bagaimana mengenal Allah ﷻ dengan benar = Asma wa Shifat
Orang yang tidak hafal istilah-istilah ini bisa tetap bertauhid dengan benar, selama ia beriman kepada Allah ﷻ sesuai dengan pemahaman Nabi ﷺ.
Namun, menyalahkan atau menyebut bid’ah terhadap pembagian ini adalah ketergelinciran ilmu.
🛡️ Kesimpulan
- Pembagian tauhid menjadi rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat bukan buatan Wahabi, tapi merupakan klasifikasi ilmiah yang sudah ada sejak para ulama salaf.
- Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hanya menghidupkan kembali dakwah tauhid ini di tengah masyarakat yang penuh kesyirikan.
- Menuduh pembagian ini sebagai bid’ah adalah tuduhan tanpa dasar ilmiah, dan justru bertentangan dengan metodologi para ulama Ahlus Sunnah.
- Tauhid adalah inti agama Islam.
- Dan pembagian tauhid hanyalah upaya memudahkan kaum Muslimin mengenal Tuhannya dengan benar.
- Menolaknya karena fanatisme buta terhadap mazhab atau kelompok adalah bentuk penolakan terhadap warisan ilmu para salaf.
------
⛔ Jangan jadikan tradisi, hawa nafsu, dan gaya hidup yang bertentangan dengan syariat lebih utama dari wahyu Allah ﷻ dan sunnah Rasulullah ﷺ
➡️ Semoga Allah ﷻ membimbing kita kepada kebenaran yang diridhai-Nya
🔄 Silakan bagikan artikel ini agar jadi amal jariyah dan jalan hidayah bagi yang membaca, niatkan hanya untuk Allah ﷻ
📚 Untuk pemahaman Islam yang benar, rujuk lah kepada ustadz Ahlus Sunnah wal Jama‘ah yang bermanhaj salaf, mengikuti Al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para Sahabat, Tabi‘in, dan Tabi‘ut Tabi‘in
💡 Cara memilih guru rujukan :
✅ Lihat ilmu dan dalilnya, bukan sekadar nama atau popularitas
✅ Jangan fanatik pada tokoh, tapi ikuti kebenaran berdasarkan dalil yang disampaikannya
✅ Pastikan ia membimbing pada tauhid, menjauhi bid’ah, dan berpegang teguh pada sunnah (apa yang dicontohkan, diajarkan, dibenarkan oleh Rasulullah ﷺ)
📺 Rekomendasi : Kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, Rodja TV, Ashiil TV, dan para Asatidzah diberbagai kota dan TV Manhaj Salaf lainnya
📝 Jika ingin tanya jawab atau diskusi, silakan balas lewat WhatsApp atau komentar di website
✍️ Catatan :
👉 Apa yang disampaikan dalam tulisan ini adalah hasil dari usaha mencari kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, dengan merujuk kepada penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah.
✅ Semua penjelasan dalam tulisan ini disusun berdasarkan rujukan dari Al-Qur’an, Hadits, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.
📋Hanya menyampaikan kembali ilmu dari para ulama Manhaj Salaf.
🙏 Jika yang disampaikan adalah kebenaran, itu datang dari Allah ﷻ semata; jika ada kekeliruan, itu dari kelemahan diri penulis dan memohon ampun kepada Allah ﷻ.
Wallāhu A‘lam, hanya Allah ﷻ yang Mahatahu kebenaran 🤲
Komentar
Posting Komentar