BANTAHAN TERHADAP NARASI : “SALAFI ITU CUMA SLOGAN”
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
👉 Banyak orang tertipu karena melihat sesuatu diamalkan mayoritas.
📢 Padahal Rasulullah ﷺ bersabda : ‘Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu’ (HR. Abu Dawud no. 4597).
❓ Kalau benar mayoritas itu pasti selamat, kenapa Rasulullah ﷺ justru mengingatkan hanya satu yang selamat ?
(Artikel 432 = 26/07/2025, Ba'da Magrib)
Saluran Penulis Artikel Dakwah :
https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
Website Penulis Artikel Dakwah :
https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
Ustad Firanda Andirja Hafidzahullah :
https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
Aplikasi UFA = BEKAL ISLAM :
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
BANTAHAN TERHADAP NARASI : “SALAFI ITU CUMA SLOGAN”
Meluruskan Kekeliruan yang Mengaitkan Politik Saudi dengan Aqidah Salaf
1️⃣ Tunjukkan Syubhatnya
Dalam komentar yang beredar, ada tuduhan seperti ini:
“Saudi kirim senjata ke Israel… Di Western countries, syaikh-syaikh salafi Saudi / Emirates mengharamkan ikut demo Palestina… Sekarang banyak yang mulai faham bahwa kata-kata kembali ke salaf sebagianya tidak lebih dari sekedar slogan saja.”
Inti syubhatnya :
- Mengambil isu politik (kapal Saudi) sebagai senjata untuk menjatuhkan dakwah Salaf.
- Menyamakan negara Saudi = aqidah Salaf = ulama Salafi.
- Menilai manhaj Salaf itu cuma slogan karena keputusan politik negara.
2️⃣ Kesalahannya di Mana
- Campur aduk antara negara dan manhaj = Aqidah Salaf adalah ajaran Islam murni yang diambil dari Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para sahabat. Ia tidak bergantung pada siapa yang memimpin suatu negara.
- Kesalahan pengambilan dalil = Menilai kebenaran manhaj dari perilaku politisi sama saja seperti menilai Islam dari perilaku oknum Muslim yang korup.
- Generalizing fallacy = Menganggap semua ulama Salaf “setuju” atau “terlibat” dalam dugaan kebijakan negara adalah tuduhan tanpa bukti.
3️⃣ Dalil Kebenarannya
Aqidah Salaf punya landasan yang kokoh, tidak tergantung pada negara :
- Allah ﷻ memerintahkan kita mengikuti Rasulullah ﷺ dan para sahabat (QS. At-Taubah: 100).
- Rasulullah ﷺ memuji tiga generasi terbaik (HR. Bukhari-Muslim).
- Prinsip amar ma’ruf nahi munkar dilakukan sesuai dalil, bukan ikut-ikutan emosi atau slogan politik.
- Kalau ada kebijakan negara yang salah, itu tanggung jawab penguasa di hadapan Allah, bukan alasan untuk membuang manhaj yang benar.
4️⃣ Perbandingan dengan Manhaj Salaf
- Manhaj Salaf = mengajarkan menilai segala perkara berdasarkan dalil, bukan berdasarkan identitas kelompok atau negara.
- Kelompok emosional = sering menjadikan politik sebagai barometer kebenaran. Ini berbahaya, karena membuat agama tunduk pada tren geopolitik, bukan dalil.
5️⃣ Solusi & Penutup
- Pisahkan antara ajaran Islam murni (manhaj Salaf) dengan perilaku politik negara manapun.
- Kalau berita benar, kita mengingkari dengan cara syar’i, bukan dengan memfitnah dan merendahkan manhaj yang dibawa Rasulullah ﷺ.
Ingat sabda Nabi ﷺ : “Barang siapa memusuhi wali-Ku (orang yang berpegang pada agama-Ku), Aku umumkan perang terhadapnya.” (HR. Bukhari)
📌 Kesimpulan :
- Menyerang manhaj Salaf dengan alasan kebijakan negara sama saja seperti menolak sunnah Nabi ﷺ hanya karena perilaku sebagian umat Islam yang buruk.
- Ini logika yang salah dan berbahaya.
--------
Mayoritas bukan ukuran kebenaran
🔑 Jangan tertipu dengan jumlah.
📢 Rasulullah ﷺ sudah menegaskan : ‘Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, yang selamat hanya satu’ (HR. Abu Dawud no. 4597).
👉 Kalau keselamatan ditentukan oleh jumlah, maka Fir’aun dan pengikutnya lebih banyak dari Musa dan kaumnya.
❓ Jadi, mau ikut mayoritas atau kebenaran ?
Wallahu A'lam 🤲
Komentar
Posting Komentar