SERANGAN MODEL LAMA : DARI KHAWARIJ HINGGA MUSUH ISLAM MODERN
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
👉 Banyak orang marah kepada pemimpin yang zalim, tapi lupa memperbaiki diri.
📢 Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : ‘Sabar terhadap pemimpin yang zalim lebih ringan dari pada kekacauan akibat pemberontakan’ (Minhajus Sunnah).
❓ Kalau masyarakatnya masih bergelimang maksiat, pantaskah berharap pemimpin yang adil ?
(Artikel 436 = 27/07/2025, Ba'da Dzuhur)
Saluran Penulis Artikel Dakwah :
https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
Website Penulis Artikel Dakwah :
https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
Ustad Firanda Andirja Hafidzahullah :
https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
Aplikasi UFA = BEKAL ISLAM :
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
SERANGAN MODEL LAMA : DARI KHAWARIJ HINGGA MUSUH ISLAM MODERN
Fitnah terhadap Ahlul Haq Selalu Mengulang Pola yang Sama
1️⃣ Tunjukkan Syubhatnya
Fitnah yang dilempar ke manhaj Salaf saat ini, seperti:
- “Saudi salah, berarti Salafi salah.”
- “Penguasa Salafi kejam, berarti ajaran Salafi kejam.”
- “Kalau tokoh Salafi diam soal politik, berarti Salafi itu manhaj penipu.”
Ini bukan pola baru, tapi pengulangan sejarah sejak zaman Khawarij di masa sahabat Nabi ﷺ.
2️⃣ Kesalahan dalam Syubhat Ini
- Menggunakan kesalahan pribadi untuk menjatuhkan kebenaran ajaran = Ini mirip dengan cara Khawarij menuduh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu keluar dari Islam hanya karena menerima tahkim (arbitrase) dalam perang Shiffin.
- Menarik kesimpulan umum dari kasus khusus. = Contoh: kalau ada 1 penguasa mengaku Salafi lalu salah, mereka simpulkan seluruh manhajnya rusak.
- Mengabaikan fakta sejarah bahwa serangan ini sering ditujukan pada siapa saja yang memegang teguh tauhid dan sunnah.
3️⃣ Dalil dan Fakta Sejarah
- Di zaman Nabi ﷺ : Orang munafik menuduh Nabi ﷺ tidak adil dalam pembagian ghanimah (HR. Bukhari, Muslim).
- Di zaman Ali radhiyallahu ‘anhu : Khawarij menuduh beliau berhukum dengan selain hukum Allah, padahal Ali adalah khalifah yang lurus.
- Di zaman Imam Ahmad : Kaum Mu’tazilah menyebarkan fitnah bahwa beliau menghasut rakyat agar benci penguasa, hanya karena beliau menolak mengatakan “Al-Qur’an makhluk.”
- Di zaman Ibnu Taimiyah : Beliau difitnah sebagai pembuat ajaran baru, hanya karena tegas menghidupkan kembali pemahaman salaf.
- Di zaman sekarang : Siapa saja yang menyeru ke tauhid murni dan memurnikan sunnah akan diserang dengan stigma “Wahabi” atau “manhaj politik penipu.”
4️⃣ Perbandingan dengan Manhaj Salaf
- Manhaj Salaf : Menilai ajaran dari Qur’an dan Sunnah, memisahkan antara kesalahan personal dan prinsip.
- Pola Khawarij & musuh Islam : Menggunakan kesalahan atau kebijakan personal untuk menjatuhkan seluruh manhaj, lalu membungkusnya dengan bahasa peduli umat.
- Kaidah Salaf : “Kebenaran itu tidak tergantung pada siapa yang mengatakannya. Kenalilah kebenaran, niscaya kamu akan tahu siapa yang mengikutinya.” — Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu
5️⃣ Solusi dan Sikap yang Benar
- Kenali polanya = jika serangannya mirip cara Khawarij, maka waspadai tujuannya.
- Jangan terpancing framing = fokus kepada dalil, bukan gosip politik.
- Pisahkan antara kesalahan oknum dan ajaran = kita menolak kesalahan siapapun, tapi tidak menghapus kebenaran yang dibawanya jika bersandar pada dalil.
- Tetap ambil ilmu dari ahlinya = walaupun ada penguasa yang salah, jangan jadikan itu alasan meninggalkan ulama yang lurus.
- Doakan hidayah untuk yang terfitnah = agar kembali kepada ilmu dan tidak hanyut dalam kebencian.
📌 Kesimpulan :
- Fitnah terhadap manhaj Salaf dengan menyerang penguasanya hanyalah pola lama yang diulang dari zaman Khawarij.
- Bedanya, sekarang dibungkus dengan narasi kemanusiaan dan politik.
- Kita wajib memisahkan antara kesalahan pelaku dan kebenaran dalil, serta berpegang pada prinsip Salafus Shalih yang telah terbukti lurus sejak zaman Nabi ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda : "Akan datang kepada kalian fitnah-fitnah bagaikan potongan malam yang gelap. Orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri..." (HR. Abu Dawud)
--------
Perbandingan akal vs wahyu
🧠 Akal manusia terbatas, wahyu Allah ﷻ tidak terbatas.
📢 Allah ﷻ berfirman : ‘Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, dan merekalah yang akan ditanya’ (QS. Al-Anbiya: 23).
👉 Maka jangan menjadikan akal di atas wahyu.
❓ Pertanyaannya, berani kah kita mempertaruhkan akhirat hanya dengan logika pribadi / kelompok ?
Wallahu A'lam 🤲
Komentar
Posting Komentar