📚“Dari Ditolak Hingga Dihargai – Perjalanan Seorang Penyeru Kebenaran”

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ  

📋 Pengantar Ilmiah
  • Dalam ilmu Islam, setiap perbuatan ibadah harus berlandaskan dalil yang sahih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. 
  • Tanpa dalil, maka amalan itu tertolak, meski niatnya baik. 
  • Karena niat baik tidak bisa menghalalkan cara yang salah.
(Artikel 519 = 09/08/2025, Ba'da Subuh)

Saluran Penulis Artikel Dakwah :
https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P

Website Penulis Artikel Dakwah :
https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/

Ustad Firanda Andirja Hafidzahullah :
https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos

Aplikasi UFA = BEKAL ISLAM :
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

📚“Dari Ditolak Hingga Dihargai – Perjalanan Seorang Penyeru Kebenaran”

📋 Pendahuluan

Setiap orang yang serius berdakwah pasti akan mengalami berbagai ujian.

Termasuk ujian yang paling menyakitkan — yaitu penolakan dari orang-orang yang seharusnya menerima, menghargai, bahkan mendukung. 

Sungguh bukan hal yang mudah ketika tulisan-tulisan yang berisi ilmu syar’i, dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits, justru dianggap mengganggu, mengacaukan harmoni, atau bahkan merusak tradisi yang telah lama dijunjung.

Tapi Alhamdulillāh, seiring berjalannya waktu, banyak dari mereka yang awalnya menolak akhirnya diam. Ada yang akhirnya paham. 

Dan tak sedikit yang justru kemudian menghormati. Inilah kisah nyata dari jalan dakwah: jalan penuh duri, tapi dijaga oleh cahaya wahyu.

1. Awal Mula : Dakwah Ditolak, Ilmu Diremehkan

Saat pertama kali menyampaikan artikel dakwah yang berisi tauhid murni, penjelasan bid'ah, larangan syirik, atau pembahasan tentang kesalahan adat dan budaya yang menyimpang, resistensi langsung muncul.
  • "Jangan menyebar kebencian !" 
  • "Ini kan bukan tempatnya berdakwah !" 
  • "Kamu bukan ustadz, jangan sok tahu !" 
  • "Islam itu luas, jangan sempitkan !"
Komentar-komentar seperti itu sering datang — bukan dari non-Muslim, tapi dari mereka yang mengaku Muslim, bahkan sebagian tokoh masyarakat dan pemuka agama lokal. 

Yang lebih menyedihkan, bukan isi dakwahnya yang dikritik, tapi keberanian menyampaikannya yang dianggap salah.

Namun bagi seorang da’i yang yakin akan kebenaran Islam, ini semua bukan hal yang baru.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah’, lalu mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka…” (QS. Fushshilat: 30)

2. Dikuatkan Oleh Dalil dan Hujjah yang Jelas
  • Setiap kali muncul penolakan, syubhat, dan kritik, jawaban ilmiah disusun berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah
  • Tidak asal debat. 
  • Tidak emosional. 
  • Tidak membalas hinaan dengan caci maki.
Hanya satu prinsip :
  • Jika mereka menyerang dengan logika, kita jawab dengan logika dan dalil.
  • Jika mereka menyerang dengan adat, kita jawab dengan wahyu. 
  • Jika mereka menyerang dengan emosi, kita jawab dengan akhlak dan keteguhan.
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang paling baik." (QS. An-Nahl: 125)

Dan benarlah firman Allah ﷻ : "Sesungguhnya Kami pasti akan menolong para rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (kiamat)." (QS. Ghafir: 51)

3. Perlahan, Mereka Tidak Lagi Membalas
  • Subhanallah… Setelah berkali-kali membalas syubhat dengan ilmiah, dengan adab, dan tanpa menyerang pribadi — satu per satu dari mereka mulai diam.
  • Tidak lagi menyerang. 
  • Tidak lagi mengolok-olok. 
  • Bahkan beberapa mulai diam-diam membaca dan menyimak.
  • Ada yang dulu terang-terangan menghina, sekarang hanya diam membaca. 
  • Ada yang dulu menyuruh berhenti kirim artikel, sekarang malah ikut menyebarkan. 
Inilah buah dari istiqamah dalam dakwah.

“Barang siapa bersabar, Allah akan menolongnya...” (HR. Bukhari)

4. Dari Yang Dicibir Menjadi Yang Dihormati
  • Waktu terus berjalan. 
  • Hujjah terus ditegakkan. 
  • Artikel demi artikel disebarkan dengan penuh konsistensi. 
  • Hingga akhirnya, orang-orang mulai berubah.
  • Mereka yang dulu berkata “jangan sok alim” kini berkata, “Kami menunggu tulisan berikutnya.” 
  • Mereka yang dulu menegur, kini justru minta dikirimi artikel. 
  • Mereka yang dulu menyerang, kini malah memuji keberanian Anda menyuarakan kebenaran yang jarang dibicarakan.
Ini bukan tentang popularitas. 

Tapi ini tentang janji Allah bagi orang-orang yang menyampaikan agama-Nya dengan sabar dan lurus.

“Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

5. Refleksi Diri : Kita Hanya Perantara, Allah yang Menentukan Hidayah

Dari perjalanan ini kita belajar : 
  • ✅ Kita hanya menyampaikan. Bukan yang membolak-balikkan hati manusia. 
  • ✅ Kita hanya menjelaskan. Bukan yang memberi hidayah. 
  • ✅ Kita hanya berusaha. Hanya Allah ﷻ yang menggerakkan hati mereka untuk menerima.
"Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Qashash: 56)

6. Jangan Pernah Berhenti Berdakwah
  • Bila hari ini Anda dihina, jangan surut.
  •  Bila Anda disindir, jangan lemah. 
  • Bila Anda dituduh sok suci, jangan goyah.
  • Karena dakwah bukan soal siapa yang setuju, tapi apakah kita sudah menyampaikan.
"Sampaikan dariku walau satu ayat." (HR. Bukhari)

✍️ Penutup : Tetap Lurus dan Ikhlas

Wahai para penyeru kebenaran, ketahuilah:
  • 🌱 Kebenaran itu seperti benih. Awalnya ditanam dalam tanah, tak terlihat. 
  • 💧 Tapi jika terus disiram dengan ilmu dan keikhlasan, 
  • 🌿 Maka pada waktunya, ia akan tumbuh dan menghasilkan buah — 
  • 🍃 meski tak langsung dipetik oleh Anda, tapi ia akan menghidupkan hati yang telah lama mati.
“Barang siapa menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Doa Penutup

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk para da’i yang menyeru kepada jalan-Mu dengan ilmu dan basirah. Teguhkan kami di atas kebenaran, dan jadikan semua amal kami ikhlas karena-Mu.”

-----

📌 Persatuan di atas Kebenaran
  • Mari kita satukan hati dalam kebenaran, bukan dalam kebiasaan. 
  • Bersatu bukan berarti mencampur antara haq dan batil, tapi bersatu di atas tauhid dan sunnah. 
  • Karena itulah jalan para sahabat Rasulullah ﷺ.
✍️ Ditulis dengan mengharap ridha Allah ﷻ. Mohon maaf bila ada kekurangan, segala kebenaran datang dari Allah ﷻ.

🌙 “Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba yang mencintai kebenaran, bukan yang mencari alasan pembenaran.”

Wallahu A'lam 🤲 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

❓ Apakah Orang Tua Nabi Muhammad ﷺ Masuk Surga ?

Selamat Datang di Blog Hijrah Butuh Ilmu – Kenapa Kita Harus Hijrah dengan Ilmu?

🌀 Benarkah Semua Golongan Masuk Surga ?