Haji & Umrah : Fiqh & Manasik
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
📝 Membandingkan 2 kondisi kontras
- Aneh tapi nyata — banyak yang marah jika agamanya dikritik, tapi tidak peduli saat ajaran Allah ﷻ dilanggar.
- Mereka bangga dengan identitas Islam, namun enggan tunduk pada syariat Islam.
(Artikel 527 = 10/08/2025, Ba'da Dzuhur)
📣 Saluran Penulisan Artikel : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
🌐 Website Penulis Artikel : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
▶️ YouTube UFA : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi UFA = BEKAL ISLAM :
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
Haji & Umrah : Fiqh & Manasik
1. Tauhid dan Niat Lillah
Segala amal ibadah, termasuk haji dan umrah, hanya sah bila dilakukan dengan ikhlas karena Allah ﷻ dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
Allah ﷻ berfirman : “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196)
Rasulullah ﷺ bersabda : “Barang siapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Maka, haji dan umrah bukan sekadar perjalanan spiritual, apalagi wisata religi, tetapi ibadah agung yang harus dibangun di atas tauhid dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
2. Masalah atau Syubhat yang Terjadi
Banyak jamaah haji dan umrah :
- Tidak memahami rukun, wajib, dan sunnah ibadahnya.
- Melakukan ritual tambahan yang tidak ada dalilnya.
- Menjadikan haji sebagai ajang gengsi sosial.
- Menunda haji padahal mampu secara finansial dan fisik.
- Terjebak dalam kemusyrikan, seperti mencari berkah di tempat-tempat yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah ﷺ.
3. Kesalahan atau Penyimpangan
Beberapa bentuk kesalahan yang sering terjadi :
- Tidak menegakkan tauhid — masih percaya jimat, meminta doa kepada orang yang sudah meninggal, atau bertawaf di tempat selain Ka'bah.
- Menunda haji tanpa alasan syar’i padahal sudah mampu, melanggar perintah Allah untuk bersegera (QS. Ali ‘Imran: 97).
- Ritual bid’ah seperti mengusap-usap tembok Ka’bah di luar Hajar Aswad, atau mencari “air khusus” di luar zamzam untuk keberkahan.
- Campur dengan maksiat — selfie berlebihan, berpakaian tidak menutup aurat, atau bercampur antara laki-laki dan perempuan tanpa hijab syar’i.
4. Dalil Kebenaran yang Kuat
Haji dan umrah adalah ibadah yang telah sempurna tuntunannya.
Rasulullah ﷺ bersabda : “Ambillah dariku manasik (tata cara) haji kalian.” (HR. Muslim no. 1297)
Kewajiban haji bagi yang mampu : “…Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…” (QS. Ali ‘Imran: 97)
Tauhid adalah pondasi ibadah : “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)
5. Penjelasan Fiqh & Manasik Secara Ringkas
a. Rukun Haji (tidak boleh ditinggalkan) :
- Ihram dengan niat.
- Wukuf di Arafah.
- Tawaf Ifadah.
- Sa’i antara Shafa dan Marwah.
- Tahallul.
- Tertib (urut sesuai tuntunan).
b. Wajib Haji (jika ditinggalkan harus dam):
- Ihram dari miqat.
- Mabit di Muzdalifah.
- Mabit di Mina.
- Melontar jumrah.
- Meninggalkan larangan ihram.
c. Sunnah Haji:
- Shalat sunnah sebelum ihram.
- Memperbanyak talbiyah.
- Berdoa di Multazam, di Arafah, dan di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.
d. Rukun Umrah:
- Ihram.
- Tawaf.
- Sa’i.
- Tahallul.
- Tertib.
6. Perbandingan dengan Manhaj Salaf
- Manhaj Salaf mengajarkan ibadah haji dan umrah sesuai contoh Rasulullah ﷺ, tanpa tambahan ritual yang tidak ada tuntunannya.
- Salaf berpegang pada kaidah :
“Asal ibadah adalah tauqifiyyah” — hanya boleh dilakukan sesuai dalil, tidak boleh ditambah atau dikurangi.
Berbeda dengan sebagian kelompok yang memasukkan ritual-ritual baru demi “memperbanyak pahala”, padahal yang tidak ada dalilnya justru bisa menghapus pahala.
7. Arah Solusi
- Pelajari fiqh haji & umrah dari Al-Qur’an, hadits shahih, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.
- Tegakkan tauhid — bersihkan niat dari riya’, sum’ah, dan bid’ah.
- Ikuti manasik Nabi ﷺ tanpa tambahan
- Segera tunaikan haji jika sudah mampu.
- Jaga adab selama di tanah suci, hindari maksiat dan hal sia-sia.
8. Doa Hidayah
اللَّهُمَّ اجعل حجّنا مبرورًا، وسعينا مشكورًا، وذنبنا مغفورًا، وعملاً صالحًا مقبولًا، واغفر لنا ولوالدينا وللمسلمين أجمعين.
Ya Allah, jadikanlah haji kami mabrur, sa’i kami penuh syukur, dosa kami terampuni, amal kami diterima, dan ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin.
-----
📢 Muhasabah diri
- Tidak ada manusia yang sempurna.
- Mungkin hari ini kita masih banyak dosa, tapi selama napas masih ada, pintu taubat masih terbuka.
- Kembalilah kepada Allah ﷻ sebelum ajal menutup kesempatan.
✍️ Ditulis dengan mengharap ridha Allah ﷻ. Mohon maaf bila ada kekurangan, segala kebenaran datang dari Allah ﷻ.
🌙 “Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba yang mencintai kebenaran, bukan yang mencari alasan pembenaran.”
Wallahu A'lam 🤲
Komentar
Posting Komentar