📌 BANTAHAN ILMIAH : MENJAWAB TUDUHAN “Wahabi Buta Menilai, Saudi Banyak Maksiat, Wahabi Penunggang Agama”

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ 

⚡ Jika umat ini benar-benar mencintai akhirat, mengapa pembicaraan tentang akhirat selalu terasa asing dan berat ?

📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P

🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/

⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel

▶️ YouTube UFA : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos

🅰️ Aplikasi UFA : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

(Artikel 1.028 = 02/11/2025, Ba'da Ashar)

📌 BANTAHAN ILMIAH : MENJAWAB TUDUHAN “Wahabi Buta Menilai, Saudi Banyak Maksiat, Wahabi Penunggang Agama”

Komentar di atas memuat beberapa tuduhan serius dan syubhat besar, mencampur aduk antara realitas sosial, kesalahan individu, dan fitnah terhadap Ahlus Sunnah.

Karena itu, bantahannya harus ilmiah, logis, dan sesuai manhaj salaf.

1. MENUNJUKKAN SYUBHAT SECARA JELAS

Komentar tersebut menuduh bahwa :
  • Jika di Saudi ada maksiat, berarti pemimpinnya tidak warak.
  • Jika ada konser, zina, minuman keras, berarti “wahabi buta agama.”
  • Menuduh Ahlus Sunnah sebagai penunggang agama dan penjual agama.
Menganggap maksiat masyarakat adalah bukti kesesatan akidah.

⚡ Padahal ini merupakan:
  • Generalization fallacy (menyamaratakan satu kasus untuk menjatuhkan akidah).
  • False cause fallacy (kesalahan sebab akibat).
  • Ignorance of Islamic principles (tidak memahami konsep dosa pribadi vs hukum negara).
✍️ Kita jelaskan satu per satu.

2. DALIL DAN KEBENARAN SYARIAT

A. Setiap negeri akan tetap memiliki pelaku maksiat

Allah ﷻ berfirman : “…dan seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu manusia menjadi satu umat saja, tetapi mereka senantiasa berselisih…” (QS. Hud: 118)

🎯 Artinya : Tidak ada negara di dunia ini — bahkan Mekah dan Madinah — yang akan bebas 100% dari maksiat.

Ini sunnatullah.

Bahkan di zaman Nabi ﷺ :

⏩ ada pencuri,
⏩ ada pezina,
⏩ ada peminum khamr,
⏩ ada munafik.

❓ Apakah itu membuat Rasulullah ﷺ dianggap gagal ?

Tentu tidak.

B. Dosa individu tidak membatalkan kebenaran akidah

Rasulullah ﷺ bersabda : “Semua umatku dimaafkan kecuali orang yang menampakkan maksiat.” (HR. Bukhari No. 6069, shahih)

Maksiat dilakukan individu, bukan akidah. 

🔥 Maka menyalahkan “wahabi” atas maksiat individu adalah tuduhan yang tidak ilmiah.

C. Pemerintah tidak wajib memaksa rakyat menjadi malaikat

Allah ﷻ berfirman : “Tidaklah engkau (Muhammad) berkuasa memaksa mereka…” (QS. Al-Ghashiyah: 22)

Bahkan Nabi ﷺ pun tidak bisa membuat semua orang taat.

❓ Maka bagaimana mungkin kita menuntut pemerintah Saudi menjadikan semua warganya makhluk tanpa dosa ?

D. Para ulama sepakat bahwa syariat tetap berjalan meski masyarakat bermaksiat

👳 Ini adalah kaidah Ahlus Sunnah :
  • Pemerintah menegakkan hukum.
  • Rakyat bertanggung jawab atas dosa pribadi.
  • Tidak ada negeri Islam yang dijamin bebas maksiat.
3. BANTAHAN LOGIS DAN TAJAM TERHADAP SYUBHAT

👉 SYUBHAT 1 : “Kenapa Saudi ada konser, zina, arak, aurat terbuka ?”

Jawabannya :
  • Karena manusia tetap manusia, tidak mungkin menghilangkan maksiat sepenuhnya.
  • Maksiat individu tidak menggambarkan akidah negara.
  • Jika keberadaan maksiat berarti negara itu salah akidahnya, = Maka di masa Nabi ﷺ juga harus dianggap gagal — karena banyak orang bermaksiat.
  • Setiap negara Islam sepanjang sejarah — di era Utsmani, Abbasiyah, Umayyah — semuanya ada maksiat.
🌀 Jadi membenci Saudi bukan dalil kecerdasan, tetapi tanda kebodohan dalam memahami sunnatullah.

👉 SYUBHAT 2 : “Pemimpin Saudi warak, tapi rakyat maksiat = wahabi sesat.”

Ini logika yang rusak.

❓ Jika pemimpin baik lalu rakyat maksiat = apakah itu kesalahan pemimpin ?

Tidak.

❓ Jika rakyat taat lalu pemimpin maksiat = apakah itu kesalahan rakyat ?

Tidak.
  • Dosa pribadi tidak boleh disalahkan kepada akidah.
  • Ini ilmu dasar yang dipahami oleh anak sekolah dasar dalam belajar ushul fiqh tingkat awal.
📍 Jika mau konsisten dengan logikanya :
  • Nabi Nuh ﷺ punya istri dan anak kafir = apakah itu salah Nabi Nuh ?
  • Nabi Luth ﷺ punya istri pembangkang = apakah akidah Nabi Luth salah ?
📢 Orang yang membuat tuduhan seperti itu sebenarnya tidak paham agama.

👉 SYUBHAT 3 : “Wahabi penunggang agama.”

Pertanyaan yang menghancurkan tuduhan ini :

Siapa yang pertama kali dituduh penunggang agama ?

Para nabi.

Kaum kafir Quraisy menuduh Nabi ﷺ :

* tukang sihir,
* pemecah belah umat,
* penunggang agama,
* pemalsu syariat.

Maka tuduhan “wahabi penunggang agama” bukanlah sesuatu yang baru. 

💥 Semua pendakwah tauhid sejak zaman Nabi ﷺ menerima fitnah yang sama.

👉 SYUBHAT 4 : “Bertaubatlah wahabi sebelum nyawa di kerongkongan.”

🔄 Ucapan ini terbalik.

Justru orang yang :

* menghina ulama,
* mengejek tauhid,
* memaki negara Islam,
* menuduh firqah lain tanpa dalil,
* dialah yang paling perlu bertaubat.

Karena dosa lisan adalah dosa besar, dan Rasulullah ﷺ memperingatkan :

Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang ia anggap ringan, padahal ia tenggelam ke dalam neraka karenanya.” (HR. Tirmidzi No. 2314, shahih)

4. MANHAJ SALAF : MENILAI DENGAN ILMU, BUKAN EMOSI

✍️ Manhaj salaf mengajarkan :
  • Menilai berdasarkan dalil, bukan gosip.
  • Membedakan antara dosa individu dan aqidah negara.
  • Tidak menghina negeri yang menegakkan tauhid dan syariat.
  • Tidak menjadi provokator yang memecah-belah umat.
⚡ Seseorang yang menghina Ahlus Sunnah sebenarnya sedang mengulang tuduhan kaum Quraisy kepada Nabi ﷺ.

5. SOLUSI SYAR’I MENGHADAPI MAKSIAT DI NEGERI MANAPUN
  • Perbaiki tauhid — akar dari semua kebaikan.
  • Mengajak dengan hikmah, bukan makian.
  • Mensyukuri kebaikan, memperbaiki kekurangan.
  • Mendoakan pemimpin dan umat Muslim.
  • Tidak menyalahkan akidah hanya karena ulah individu.
6. PENUTUP DAN DOA
  • Komentar tersebut mengandung kebencian, kejahilan, dan fitnah yang berbahaya.
  • Tidak mengandung ilmu, dalil, atau adab Islami.
🤲 Semoga Allah ﷻ memberikan hidayah kepada kita semua agar :

* mencintai tauhid,
* menjaga lisan,
* mengikuti manhaj salaf,
* tidak terbawa emosi dan provokasi,
* menilai dengan ilmu, bukan hawa nafsu.

----------

🤐 Bukan siapa yang bicara yang akan ditanya di akhirat, tetapi apa yang kita lakukan setelah kebenaran datang.

Wallahu A'lam 🤲 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

❓ Apakah Orang Tua Nabi Muhammad ﷺ Masuk Surga ?

Selamat Datang di Blog Hijrah Butuh Ilmu – Kenapa Kita Harus Hijrah dengan Ilmu?

🌀 Benarkah Semua Golongan Masuk Surga ?