🎖️ Ketika Kebenaran Ditolak Karena Bukan dari Orang Bergelar
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
⚰️ Jika kematian datang hari ini, adakah satu alasan yang bisa kita ajukan untuk menunda taat kepada Allah ﷻ selama ini ?
📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel
▶️ YouTube UFA : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi UFA : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
(Artikel 1.022 = 01/11/2025, Ba'da Ashar)
🎖️ Ketika Kebenaran Ditolak Karena Bukan dari Orang Bergelar
📖 Pendahuluan
Dalam diskusi-diskusi keagamaan hari ini, sering muncul pernyataan seperti ini :
“Saya tidak mungkin percaya ucapan orang yang tidak sekolah agama. Sama seperti berobat, kita pasti ke dokter yang jelas ilmunya. Masa saya terima resep dari orang yang bukan dokter ?”
Sekilas pernyataan ini terdengar logis.
Namun jika ditelaah dengan jujur dan tenang, logika ini justru bermasalah dan berbahaya bagi agama.
🧠 Karena jika cara berpikir ini diterapkan secara konsisten, maka banyak kebenaran Islam akan tertolak, bukan karena salah, tapi karena siapa yang menyampaikan.
1. Analogi “Agama = Resep Dokter” adalah Analogi Rusak
Menyamakan agama dengan resep dokter adalah analogi keliru sejak awal.
❓ Kenapa ?
🩺 Kedokteran :
* Ilmu eksperimen manusia
* Berubah sesuai penelitian
* Butuh sertifikasi resmi
* Otoritasnya manusia
☪️ Agama Islam :
* Bersumber dari wahyu Allah ﷻ
* Sudah sempurna
* Tidak berubah
* Otoritasnya dalil, bukan manusia
📌 Wahyu tidak membutuhkan ijazah manusia untuk menjadi benar.
Yang menentukan kebenaran agama bukan :
⏩ gelar
⏩ kampus
⏩ jabatan
⏩ popularitas
Tapi : 👉 kesesuaian dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
2. Dalam Islam, Ukuran Kebenaran Bukan “Siapa”, Tapi “Apa”
Islam sejak awal berdiri bukan agama elit.
👉 Jika kebenaran hanya boleh disampaikan oleh orang bergelar :
* Para sahabat awam tidak boleh menyampaikan hadits
* Orang biasa tidak boleh menasihati
* Amar ma’ruf nahi munkar runtuh
* Dakwah berhenti di kalangan terbatas
📍 Padahal Allah ﷻ memerintahkan umat Islam untuk :
* saling menasihati
* saling mengingatkan
* menyampaikan kebenaran
📌 Islam tidak pernah mengajarkan : “Diamlah sampai kamu bergelar.”
3. Kesalahan Besar : Menyamakan “Menyampaikan Dalil” dengan “Berfatwa”
Banyak orang keliru di titik ini.
Ada perbedaan besar antara :
* ❌ berfatwa
* ✅ menyampaikan dalil
Berfatwa :
* membutuhkan keilmuan mendalam
* tidak boleh sembarang orang
✅ Menyampaikan dalil :
* menyebut ayat Al-Qur’an
* menyampaikan hadits shahih
* mengutip penjelasan ulama
📌 Setiap muslim boleh menyampaikan dalil, selama tidak mengada-ada dan tidak berfatwa sendiri.
🔥 Kalau menyampaikan dalil saja dilarang bagi orang awam, maka agama ini hanya akan hidup di podium, bukan di masyarakat.
4. Logika “Percaya Karena Gelar” Justru Berbahaya
💬 Jika seseorang berkata :
“Saya hanya percaya kalau yang bicara ustadz atau profesor.”
Maka secara tidak sadar dia sedang berkata :
* jika orang bergelar salah = tetap diikuti
* jika orang biasa benar = ditolak
❌ Ini bukan sikap ilmiah, ini taqlid buta kepada manusia.
Padahal kaidah Ahlus Sunnah jelas :
“Orang bisa salah, kebenaran tidak.”
Dan :
“Kita kenal kebenaran dulu, baru kenal siapa yang mengikutinya.”
5. Mengapa Identitas Sering Dijadikan Senjata ?
Fenomena yang sering terjadi :
* Tulisan dibaca = hati gelisah
* Dalil sulit dibantah
* Ego tersentuh
❓ Muncul pertanyaan : “Siapa yang nulis ?”
* Setelah tahu identitas = meremehkan
* Isi tidak dibahas lagi
📌 Ini mekanisme pembelaan diri, bukan pencarian kebenaran.
Menyerang pribadi adalah jalan terakhir orang yang kalah hujjah.
6. Analogi yang Lebih Tepat : Agama Itu Seperti Rambu Lalu Lintas
Jika ingin memakai analogi, maka yang tepat adalah ini :
* Agama itu seperti rambu lalu lintas.
* Siapa pun boleh membacanya.
* Yang diuji bukan siapa yang membaca,
* tapi apakah dia membacanya dengan benar.
Kalau ada orang berkata :
“Ini dilarang.”
Maka yang diuji bukan :
➡️ siapa dia
➡️ sekolah di mana
Tapi : 👉 apakah benar rambu itu ada atau tidak
7. Mengapa Banyak Ustadz Tidak Membahas Semua Hal ?
Ada yang berkata :
“Para ustadz saja tidak membahas semua ini.”
Ini juga keliru.
* Ustadz punya fokus kajian
* Punya audiens tertentu
* Punya strategi dakwah masing-masing
📌 Tidak dibahas di mimbar, tidak sama artinya dengan tidak penting, juga tidak sama artinya dengan tidak benar
💫 Banyak kebenaran :
* muncul dari realita umat
* dari pertanyaan awam
* dari kasus sehari-hari
Dan Islam memang turun untuk menjawab realita, bukan hanya kajian formal.
8. Sikap Lurus Seorang Muslim
✅ Sikap yang benar :
* Dengarkan apa yang disampaikan
* Uji dengan dalil
* Jika benar = terima
* Jika salah = bantah isinya
* Jangan serang pribadi
Karena di hadapan Allah ﷻ kelak, yang ditanya bukan :
“Kamu dengar dari siapa ?”
Tapi :
“Kamu mengikuti apa ?”
9. Penutup
Menolak kebenaran karena tidak suka penyampainya lebih berbahaya dari pada menerima kesalahan dari tokoh terkenal.
Jika umat terus diajarkan :
⏩ percaya karena gelar
⏩ menolak karena status
Maka agama akan berubah menjadi :
➡️ milik elite
➡️ penuh kultus
➡️ miskin kejujuran
Mari luruskan :
* kebenaran diukur dengan dalil
* manusia diukur dengan kebenaran
🤲 Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba yang :
* rendah hati saat belajar
* adil saat menilai
* dan jujur saat menerima kebenaran,
* dari siapa pun ia datang.
----------
🌀 Pada akhirnya, kita tidak dipaksa memilih.
Tetapi setiap pilihan akan dimintai pertanggung jawaban.
Wallahu A'lam 🤲
Komentar
Posting Komentar