📍 Bantahan Ilmiah & Beradab : Tahlilan dan Klaim “Selama Niatnya Baik”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
💌 Mengapa ketika dunia dibicarakan kita merasa bersemangat, tetapi ketika akhirat diingatkan kita merasa tidak nyaman ?
Apakah masalahnya pada cara penyampaian, atau pada hati yang belum siap ?
📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel
▶️ YouTube Ustad Firanda Andirja (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
(Artikel 1.165 = 24/11/2025, Ba'da Dzuhur)
📍 Bantahan Ilmiah & Beradab : Tahlilan dan Klaim “Selama Niatnya Baik”
1. Ringkasan Klaim Pendebat
Komentar tersebut mengakui bahwa tahlilan tidak ada di zaman Nabi ﷺ, namun berargumen :
- Ulama berbeda pendapat tentang doa, dzikir, dan sedekah untuk mayit.
- Selama niatnya mendoakan dan tidak diyakini sebagai kewajiban, maka dianggap boleh.
- Perbedaan ini sebaiknya disikapi dengan ilmu dan adab.
2. Standar Kebenaran (Ushul Ahlus Sunnah)
Standar kebenaran dalam ibadah adalah Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para Sahabat dan generasi awal (Salaf), bukan sekadar niat baik atau kebiasaan yang datang belakangan.
Allah ﷻ berfirman (makna) : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian.” (QS. Al-Mā’idah: 3)
Rasulullah ﷺ bersabda (makna) : “Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka tertolak.” (HR. Al-Bukhari no. 2697; Muslim no. 1718, shahih)
➡️ Ibadah tidak dinilai sah karena niat baik saja, tetapi harus ada tuntunannya.
3. Pelurusan Metodologi (Di Mana Kesalahan Utamanya ?)
1) Mencampuradukkan : “Doa untuk Mayit” vs “Tahlilan”
- Doa, sedekah, dan amal shalih untuk mayit = ada dalilnya dan disepakati bolehnya.
- Tahlilan sebagai acara khusus (waktu tertentu, format tertentu, berkumpul, bacaan tertentu) = tidak pernah dicontohkan oleh :
⏩ Nabi ﷺ,
⏩ istri-istri beliau,
⏩ anak-anak beliau,
⏩ para Sahabat.
➡️ Yang diperselisihkan ulama adalah masalah sampainya pahala, bukan membuat ritual baru bernama tahlilan.
2) Kekeliruan Logika : “Tidak Wajib” tidak sama artinya dengan “Boleh Dijadikan Ritual”
Banyak hal :
* tidak diyakini wajib,
* tetapi tetap tertolak jika dijadikan ibadah
* rutin tanpa dalil.
Contoh : Shalat sunnah enam rakaat khusus setelah Subuh = niatnya baik, tapi tidak ada tuntunannya.
➡️ Dalam ibadah, tidak ada ruang eksperimen, meski niatnya baik.
4. Manhaj Salaf
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan (maknanya) :
- Ibadah itu tauqīfiyyah (harus ada dalil),
- Niat baik tidak menghalalkan cara yang salah,
- Tradisi tidak boleh mengalahkan Sunnah.
👳 Ini sejalan dengan penjelasan para ulama seperti :
- Imam Mālik bin Anas (w. 179 H) – prinsip menjaga amalan penduduk Madinah yang bersumber dari praktik Sahabat,
- Imam Asy-Syāfi‘ī (w. 204 H) dalam Al-Umm tentang ibadah yang harus berdalil,
- Imam Asy-Syāṭibī (w. 790 H) dalam Al-I‘tiṣām tentang bahaya bid‘ah ritual.
5. Kontradiksi Internal Klaim Pendebat
- Mengakui tidak ada di zaman Nabi ﷺ,
- tapi tetap dipertahankan sebagai praktik ibadah.
➡️ Jika agama telah sempurna, lalu siapa yang menyempurnakannya lagi ?
6. Tiga Pertanyaan “Balik Logika”
- Jika ini ibadah yang baik, mengapa para Sahabat tidak lebih dulu melakukannya saat orang yang paling mereka cintai wafat ?
- Jika niat baik cukup, mengapa Rasulullah ﷺ memperingatkan bid‘ah ?
- Apakah kecintaan kepada mayit lebih tahu caranya daripada Sunnah Nabi ﷺ ?
7. Fakta Nyatanya
- Tidak ada satu pun riwayat shahih tentang tahlilan berjamaah terstruktur dari generasi awal.
- Doa untuk mayit ada tuntunannya, tapi bukan dengan format tahlilan.
- Tradisi ini muncul belakangan, bukan dari Salaf.
8. Motif yang Perlu Diluruskan
Sering kali praktik ini dipertahankan karena :
* Warisan budaya,
* Tekanan sosial,
* Takut dianggap aneh jika berbeda,
* bukan karena dalil yang kuat.
9. Kesimpulannya
- ✅Mendoakan mayit : sunnah dan dianjurkan.
- ❌ Menjadikan tahlilan sebagai ritual khusus : tidak ada tuntunannya.
- ❌ Niat baik tidak cukup untuk mengesahkan ibadah.
- ✅ Sikap paling aman : kembali pada doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ, tanpa membuat format baru.
10. Sikap Terbaik bagi Muslim Awam
- Tetap beradab dan lembut kepada keluarga dan masyarakat.
- Tidak ikut mengamalkan ritual yang tidak ada dalilnya.
Menggantinya dengan :
✅ doa pribadi,
✅ sedekah atas nama mayit,
✅ amal shalih yang jelas tuntunannya.
11. Penutup & Doa
Semoga Allah ﷻ membimbing kita untuk mencintai Nabi ﷺ dengan mengikuti Sunnah beliau, bukan sekadar tradisi yang diwariskan.
Ya Allah, tunjukkan kami kebenaran sebagai kebenaran dan beri kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkan kami kebatilan sebagai kebatilan dan beri kami kemampuan untuk menjauhinya.
----------
Semoga Allah ﷻ membukakan hati kita untuk mencintai kebenaran, menerima nasihat, dan istiqamah di atas jalan yang lurus hingga akhir hayat.
Wallahu A'lam 🤲
Komentar
Posting Komentar