👳 Benarkah Al-Qur’an Hanya Mengenal “Ulama Dunia” dan “Ulama Akhirat” ?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
✍️ Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun, bukan pula untuk merasa paling benar, tetapi sebagai pengingat bagi diri sendiri dan siapa pun yang masih ingin mencari kebenaran dengan jujur.
📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel
▶️ YouTube Ustad Firanda Andirja (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
(Artikel 1.170 = 25/11/2025, Ba'da Dhuha)
👳 Benarkah Al-Qur’an Hanya Mengenal “Ulama Dunia” dan “Ulama Akhirat” ?
1. Syubhat yang Beredar
Sebagian orang menyatakan :
“Al-Qur’an tidak membedakan ulama, kecuali ulama dunia dan ulama akhirat.”
Pernyataan ini sering dipakai untuk :
- membela semua pendapat yang mengatasnamakan ulama,
- menolak kritik ilmiah terhadap praktik keagamaan,
- menyederhanakan masalah manhaj dan kriteria keilmuan.
Sekilas terdengar bijak, namun perlu diluruskan secara prinsip.
2. Pelurusan Prinsip Berdasarkan Al-Qur’an & Sunnah
1) Al-Qur’an Menetapkan Kriteria Ulama
Allah ﷻ berfirman (makna) : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fāṭir: 28)
➡️ Ayat ini menetapkan kriteria, bukan sekadar label.
Ulama adalah orang yang ilmunya melahirkan khasy-yah (takut kepada Allah ﷻ).
2) Ilmu yang Benar Harus Mengantar pada Ketaatan
Rasulullah ﷺ bersabda (makna) : “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699, shahih)
➡️ Ilmu yang benar mengantar ke akhirat, bukan berhenti pada status, popularitas, atau manfaat duniawi.
3) Al-Qur’an Tidak Membagi Ulama dengan Istilah Populer Itu
Penting diluruskan :
Al-Qur’an tidak menggunakan istilah baku “ulama dunia” vs “ulama akhirat”.
Yang ada adalah penilaian terhadap sikap terhadap ilmu: apakah ilmu itu diamalkan dan menumbuhkan takwa, atau justru menjadi alat dunia.
Allah ﷻ berfirman (makna) : “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tidak mengamalkannya, seperti keledai yang membawa kitab-kitab.” (QS. Al-Jumu‘ah: 5)
➡️ Ini kritik terhadap ilmu yang tidak diamalkan, bukan pengesahan pembagian label ulama secara longgar.
3. Penjelasan Logis
Jika dikatakan :
“Yang penting sama-sama ulama, jangan dibedakan,”
maka muncul masalah :
- Bagaimana membedakan ulama yang lurus dengan yang keliru ?
- Bagaimana menyikapi pendapat yang jelas menyelisihi dalil ?
Islam mewajibkan tabyīn (penjelasan), bukan relativisme.
Allah ﷻ berfirman (makna) : “Jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita, maka telitilah.” (QS. Al-Ḥujurāt: 6)
➡️ Ini menunjukkan penilaian dan penimbangan adalah bagian dari agama.
4. Sikap Para Ulama Ahlus Sunnah
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan (maknanya) :
- Ulama dinilai dari manhaj dan amalnya, bukan sekadar gelarnya.
- Ilmu tanpa amal adalah bahaya bagi pemiliknya dan umat.
- Pendapat ulama ditimbang dengan dalil, bukan diterima mutlak.
👳 Imam Mālik bin Anas (w. 179 H) dalam Al-Muwaṭṭa’ (makna) : Setiap orang bisa diambil dan ditolak pendapatnya, kecuali Rasulullah ﷺ.
5. Jika Ada Khilaf
Benar, para ulama :
- sepakat menghormati ulama,
- berbeda dalam menilai praktik dan pendapat tertentu.
➡️ Dalam kondisi khilaf, opsi paling aman bagi Muslim awam adalah :
- mengikuti pendapat yang paling kuat dalilnya,
- paling dekat dengan praktik Nabi ﷺ dan para sahabat.
6. Sikap yang Seharusnya Diambil oleh Muslim Awam
- Hormati ulama, jangan merendahkan.
- Jangan menutup mata dari dalil dengan alasan “sama-sama ulama”.
- Timbang pendapat dengan Al-Qur’an dan Sunnah, sesuai pemahaman Salaf.
- Jika bingung, ambil yang paling aman dan paling jelas dalilnya.
7. Penutup : Nasihat & Doa
Meluruskan pemahaman tentang ulama bukan merendahkan siapa pun, tetapi menjaga agama agar tetap di atas dalil.
🤲 Semoga Allah ﷻ :
- memberi kita ilmu yang bermanfaat,
- menumbuhkan rasa takut kepada-Nya,
- dan menuntun kita mengikuti kebenaran dengan adab dan kerendahan hati.
Ya Allah, karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, dan amal yang Engkau terima.
----------
Semoga Allah ﷻ menjaga kita dari kesesatan yang terasa indah, dan menguatkan kita untuk istiqamah di atas sunnah meski terasa asing.
Wallahu A'lam 🤲
Komentar
Posting Komentar