❓ Benarkah Hubungan Intim Suami - Istri Bernilai Pahala ?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ 

👳 Dakwah yang paling berat sering kali bukan yang disampaikan dengan suara keras, tetapi yang menyentuh hati dan membongkar kenyamanan yang selama ini kita pertahankan.

📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P

🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/

⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel

▶️ YouTube Ustad Firanda Andirja (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos

🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

(Artikel 1.168 = 24/11/2025, Ba'da Isya)

❓ Benarkah Hubungan Intim Suami - Istri Bernilai Pahala ?

1. Masalahnya

Dalam sebuah diskusi disebutkan bahwa hubungan intim suami – istri bernilai pahala dan ada doa sebelum berhubungan. 

Sebagian orang tertawa, tidak percaya, dan menganggap urusan itu tidak pantas dikaitkan dengan ibadah.

2. Dalilnya

1) Hubungan Intim Bernilai Pahala

Rasulullah ﷺ bersabda (makna) : “Pada hubungan intim salah seorang dari kalian dengan istrinya terdapat pahala.” Para sahabat bertanya, “Apakah jika ia menyalurkan syahwatnya ia mendapat pahala ?” Beliau menjawab (makna) : “Bukankah jika ia menyalurkannya pada yang haram ia berdosa ? Maka jika ia menyalurkannya pada yang halal, ia mendapat pahala.” (HR. Muslim no. 1006, shahih)

➡️ Jelas dan tegas : yang halal, bila diniatkan benar, bernilai ibadah.

2) Doa Sebelum Berhubungan

Rasulullah ﷺ bersabda (makna) : “Jika salah seorang dari kalian hendak mendatangi istrinya lalu membaca doa : ‘Ya Allah, jauhkan kami dari setan dan jauhkan setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami’, maka jika dari hubungan itu ditakdirkan anak, setan tidak akan membahayakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 141; Muslim no. 1434, shahih)

➡️ Ini doa yang diajarkan Nabi ﷺ, bukan karangan manusia.

3. Pelurusan Metodologi (Di Mana Kesalahannya ?)

Kesalahan berpikirnya adalah memisahkan agama dari kehidupan :
  • Seolah ibadah hanya shalat, puasa, dan zikir,
  • Padahal Islam mengatur seluruh aspek hidup, termasuk rumah tangga dan naluri.
Allah ﷻ berfirman (makna) : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)

➡️ Ibadah mencakup semua amal halal yang diniatkan untuk Allah ﷻ.

4. Logika & Analogi Sederhana
  • Makan bisa bernilai ibadah jika niatnya agar kuat taat.
  • Tidur bernilai ibadah jika niatnya agar bangun shalat.
  • Hubungan suami – istri bernilai ibadah jika dilakukan halal dan diniatkan benar.
➡️ Mengapa yang satu diterima, tapi yang ini ditertawakan ? 

Masalahnya bukan pada dalil, tapi pada cara pandang.

5. Manhaj Salaf

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan (makna umum) bahwa :
  • Setiap amal mubah bisa bernilai ibadah dengan niat yang benar,
  • Syahwat diarahkan, bukan dimatikan,
  • Kesucian rumah tangga dijaga dengan ilmu dan adab.
(Ini sejalan dengan penjelasan para ulama seperti Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam syarah hadits-hadits niat dan muamalah; juga Ibnul Qayyim (w. 751 H) dalam pembahasan amal mubah bernilai ibadah — penyampaian sebagai makna global, bukan nukilan lafzhi).

6. Balik Logikanya 
  • Jika yang haram berdosa, mengapa yang halal tidak berpahala ?
  • Jika Nabi ﷺ mengajarkan doa, pantaskah kita menertawakan sunnah ?
  • Apakah agama hanya untuk masjid, tapi tidak untuk rumah tangga ?
7. Fakta Nyatanya
  • Hadits-haditsnya shahih dan jelas.
  • Doanya diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ.
  • Tujuannya menjaga kehormatan, bukan membuka aib.
8. Motif yang Perlu Diluruskan

Seringkali penolakan muncul karena :
  • Malu yang tidak pada tempatnya, atau
  • Pengaruh budaya yang memisahkan agama dari urusan privat.
  • Islam datang untuk menertibkan, bukan menertawakan.
9. Kesimpulan
  • Hubungan intim suami – istri bernilai pahala jika halal dan diniatkan benar.
  • Ada doa sebelum berhubungan, shahih dari Nabi ﷺ.
  • Menertawakan hal ini berarti meremehkan sunnah, meski tanpa sadar.
10. Sikap Terbaik bagi Muslim Awam
  • Terima dalil dengan lapang dada.
  • Pelajari adab rumah tangga tanpa rasa tabu berlebihan.
  • Amalkan doa dan niat, tanpa mengumbar hal privat.
11. Penutup & Doa

Semoga Allah ﷻ memuliakan rumah tangga kita, menjadikan yang halal bernilai ibadah, dan menjaga kita dari meremehkan sunnah Rasul-Nya.

Ya Allah, ajari kami agama-Mu dengan benar, hiasi amal kami dengan niat yang ikhlas, dan jaga keluarga kami dalam ketaatan.

----------

Jalan kebenaran tidak selalu ramai, tidak selalu disambut, namun selalu bernilai di sisi Allah ﷻ bagi siapa yang menjalaninya dengan ikhlas.

Wallahu A'lam 🤲 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

❓ Apakah Orang Tua Nabi Muhammad ﷺ Masuk Surga ?

Selamat Datang di Blog Hijrah Butuh Ilmu – Kenapa Kita Harus Hijrah dengan Ilmu?

🌀 Benarkah Semua Golongan Masuk Surga ?