📌 “Dakwah Jangan Mengganggu Kenyamanan, Jangan Merasa Paling Benar”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ 

📴 Setiap yang hidup pasti akan mati. 

Setiap yang mati pasti akan dimintai pertanggung jawaban. 

Namun anehnya, urusan yang paling pasti inilah yang paling sering dilupakan manusia.

📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P

🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/

⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel

▶️ YouTube Ustad Firanda Andirja (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos

🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

(Artikel 1.172 = 25/11/2025, Ba'da Ashar)

📌 “Dakwah Jangan Mengganggu Kenyamanan, Jangan Merasa Paling Benar”

(Meluruskan Cara Berpikir dalam Menyikapi Kebenaran dan Tradisi)

1. Ringkasan Klaim Pendebat

Pendebat berkata, kurang lebih :
  • Dakwah seharusnya tidak mengganggu kenyamanan.
  • Cukup saling menghormati keyakinan masing-masing.
  • Jangan merasa paling benar.
  • Tradisi Nusantara sudah ada ratusan tahun, masak dianggap salah ?
  • Ulama Nusantara banyak, apakah semuanya salah ?
  • “Emang kamu siapa ?”
Sekilas terdengar bijak. 

Namun jika ditimbang dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan manhaj Salaf, klaim ini bermasalah secara metodologi.

2. Standar Kebenaran dalam Islam

Dalam Islam, kebenaran tidak ditentukan oleh rasa nyaman, jumlah pengikut, atau lamanya tradisi, tetapi oleh wahyu.

Allah ﷻ berfirman (makna) : “Jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘ām: 116)

Allah ﷻ juga berfirman (makna) : “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang Allah turunkan’, mereka menjawab: ‘Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami’.” (QS. Al-Baqarah: 170)

➡️ Lamanya tradisi dan banyaknya pelaku bukan hujjah kebenaran.

3. Kesalahan Metodologi Utama

A. Menjadikan “Kenyamanan” sebagai Standar Kebenaran

Islam tidak pernah menjadikan kenyamanan sebagai tolok ukur kebenaran.

Rasulullah ﷺ bersabda (makna) : “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Al-Bukhari no. 3461, shahih)

Dakwah Nabi ﷺ :

* mengganggu kemapanan jahiliyah,
* menabrak tradisi,
* membuat banyak orang tidak nyaman.

➡️ Jika ukuran dakwah harus selalu “nyaman”, para nabi pasti ditolak sejak awal.

B. Menyamakan Toleransi dengan Membiarkan Kesalahan

Menghormati manusia tidak sama dengan membenarkan keyakinan atau praktik yang keliru.

Allah ﷻ berfirman (makna) : “Dan katakanlah: Kebenaran itu datang dari Rabb kalian.” (QS. Al-Kahfi: 29)

➡️ Adab kepada manusia wajib,
➡️ kompromi terhadap kebenaran tidak dibenarkan.

C. Tuduhan “Merasa Paling Benar” yang Keliru Sasaran

Menegaskan dalil bukan berarti merasa diri paling benar.

Dalam Islam :

* yang benar adalah dalil,
* manusia bisa benar dan bisa salah.

Imam Mālik bin Anas (w. 179 H) berkata dalam Al-Muwaṭṭa’ (maknanya) : Setiap orang bisa diambil dan ditolak perkataannya, kecuali penghuni kubur ini (Rasulullah ﷺ).

➡️ Menimbang tradisi dengan dalil bukan kesombongan, tapi sikap ilmiah.

D. Klaim “Ratusan Ulama Nusantara”

Ini juga kesalahan logika.

Pertanyaannya bukan : 

“Berapa banyak ulamanya ?”

Tetapi :

“Apakah praktik itu sesuai dalil atau tidak ?”
  • Para ulama Ahlus Sunnah — di Nusantara maupun luar Nusantara — berbeda-beda pendapat. 
  • Tidak semua ulama sepakat pada setiap tradisi.
➡️ Tidak benar menyamaratakan semua ulama Nusantara berada pada satu sikap.

E. Serangan Pribadi: “Emang Kamu Siapa ?”

Ini bukan argumen ilmiah, tapi menutup diskusi.

Dalam Islam :
  • kebenaran tidak bergantung pada siapa yang menyampaikan,
  • tetapi pada apa yang disampaikan.
Allah ﷻ berfirman (makna) : “Dan janganlah kebencian suatu kaum membuat kalian tidak berlaku adil.” (QS. Al-Mā’idah: 8)

➡️ Orang awam sekalipun boleh menyampaikan dalil, selama benar dan beradab.

4. Kontradiksi Internal Pendebat

Pendebat berkata :

“Jangan merasa paling benar”

tetapi di saat yang sama :

* memastikan tradisi mereka pasti benar,
* dan menolak koreksi dari dalil.

➡️ Ini kontradiksi : menolak klaim kebenaran orang lain, sambil mengklaim kebenaran sendiri.

5. Tiga Pertanyaan Balik
  • Jika kebenaran diukur dari kenyamanan dan tradisi, bagaimana dengan dakwah para nabi yang ditolak kaumnya ?
  • Jika banyaknya ulama jadi hujjah, siapa yang menentukan ulama mana yang pasti benar dalam setiap tradisi ?
  • Jika dalil tidak boleh disampaikan karena “mengganggu”, untuk apa Al-Qur’an diturunkan sebagai pembeda antara haq dan batil ?
6. Kesimpulan
  • Dakwah bukan untuk menyenangkan semua orang, tapi untuk menyampaikan kebenaran dengan adab.
  • Tradisi wajib ditimbang dengan dalil, bukan dilindungi dari kritik.
  • Menghormati ulama tidak berarti menutup pintu koreksi ilmiah.
  • Menyampaikan dalil bukan merasa paling benar, tapi tunduk pada kebenaran.
7. Penutup : Nasihat & Doa

Jika suatu nasihat terasa tidak nyaman :
  • bisa jadi karena caranya kurang tepat,
  • atau bisa jadi karena kebenarannya memang sedang mengetuk hati.
Semoga Allah ﷻ :
  • melembutkan hati kita menerima kebenaran,
  • menjaga adab dalam berbeda,
  • dan mengumpulkan kita di atas kebenaran, bukan sekadar kebiasaan.
Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kami untuk mengikutinya, dan tunjukkan kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kami untuk menjauhinya.

----------

Kebenaran tidak diukur dari siapa yang menyampaikan, tetapi dari apa yang disampaikan dan sejauh mana ia sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.

Wallahu A'lam 🤲 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

❓ Apakah Orang Tua Nabi Muhammad ﷺ Masuk Surga ?

Selamat Datang di Blog Hijrah Butuh Ilmu – Kenapa Kita Harus Hijrah dengan Ilmu?

🌀 Benarkah Semua Golongan Masuk Surga ?