🎯 Mengapa Tabarruk ke Kuburan Dibela dan Mengakar di Masyarakat ?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ 

☪️ Islam bukan sekadar identitas, bukan pula tradisi turun-temurun. 

Islam adalah kepatuhan total kepada Allah ﷻ, dan kepatuhan itu menuntut ilmu, kejujuran, serta keberanian meninggalkan kebiasaan yang salah.

📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P

🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/

⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel

▶️ YouTube Ustad Firanda Andirja (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos

🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

(Artikel 1.166 = 24/11/2025, Ba'da Ashar)

🎯 Mengapa Tabarruk ke Kuburan Dibela dan Mengakar di Masyarakat ?

(Bantahan Ushul – Ilmiah & Beradab)

1. Ringkas Klaim Pendebat 

Sebagian orang meyakini bahwa :
  • tabarruk (mencari berkah) di kuburan orang shalih tidak bertentangan dengan syariat,
  • itu hanya bentuk penghormatan dan wasilah,
  • serta sudah lama diamalkan dan dibela oleh sebagian tokoh.
Klaim ini perlu diuji, bukan dengan perasaan atau tradisi, tetapi dengan Al-Qur’an dan Sunnah serta kaidah Salaf.

2. Menetapkan Standar Kebenaran

Allah ﷻ berfirman (makna) : “Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisā’: 59)

➡️ Perselisihan ibadah harus dikembalikan ke dalil, bukan kebiasaan.

3. Dalilnya (Fondasi Utama)

A. Berkah Datangnya dari Allah ﷻ, Bukan dari Tempat atau Makam

Allah ﷻ berfirman (makna) : “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an… agar menjadi peringatan.” (QS. Al-Furqān: 1)

➡️ Sumber berkah adalah wahyu dan ketaatan, bukan benda atau lokasi tertentu tanpa dalil.

B. Doa dan Permohonan adalah Ibadah

Rasulullah ﷺ bersabda (makna) : “Doa itu adalah ibadah.” (HR. at-Tirmidzi no. 2969; dinilai hasan)

➡️ Menggantungkan harapan keberkahan kepada selain Allah ﷻ masuk wilayah ibadah dan harus berdalil.

C. Nabi ﷺ Melarang Menjadikan Kuburan sebagai Sarana Ibadah

Rasulullah ﷺ bersabda (makna) : “Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan.” (HR. Abu Dawud no. 2042; shahih)

➡️ Larangan ini menutup pintu menuju pengkultusan kubur.

4. Bongkar Kesalahan Metodologi (Akar Masalah)

❌ Kesalahan 1 : Menyamakan Penghormatan dengan Ibadah

Menghormati orang shalih boleh, tetapi tidak boleh :

* mengharap berkah dari kuburnya,
* menyandarkan hajat pada tempat tersebut,

➡️ bergeser dari adab menjadi ibadah, dan ibadah wajib berdalil.

❌ Kesalahan 2 : Wasilah Dipahami Tanpa Batas

Sebagian beralasan “sekadar wasilah”.

Padahal kaidahnya :

* Wasilah ibadah harus ditetapkan syariat,
* bukan ditentukan perasaan.

➡️ Jika setiap wasilah dibolehkan tanpa dalil, semua pintu syirik akan terbuka.

❌ Kesalahan 3 : Tradisi Dijadikan Hujjah

Alasan “sudah lama dilakukan” bukan hujjah.

Allah ﷻ berfirman (makna) : “Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang Allah turunkan, mereka berkata: Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.” (QS. Al-Baqarah: 170)

➡️ Usia tradisi tidak menjadikannya benar.

5. Kenapa Ia Mengakar Kuat ? (Fakta Sosial & Psikologis)

🔹 1. Dibungkus Cinta kepada Orang Shalih : Cinta yang tidak dibimbing ilmu mudah berubah menjadi pengkultusan.

🔹 2. Efek Psikologis Tempat “Sakral” : Suasana, cerita karamah, dan emosi kolektif menciptakan sugesti, lalu disangka berkah.

🔹 3. Minimnya Edukasi Tauhid : Tauhid jarang dijelaskan secara rinci, sehingga batas antara adab dan ibadah kabur.

🔹 4. Labelisasi terhadap Pengingat : Yang meluruskan dilabeli “keras”, sehingga masyarakat enggan mendengar dalil.

6. Logika & Analogi
  • Obat manjur bukan karena botolnya, tapi karena resepnya.
  • Berkah bukan karena kuburnya, tapi karena ketaatan kepada Allah ﷻ.
➡️ Mengalihkan sebab dari Allah ﷻ ke tempat tanpa dalil adalah kesalahan akidah.

7. Manhaj Salaf

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan (makna) :
  • Menutup semua jalan menuju syirik (sadd adz-dzarā’i‘),
  • Ibadah harus tauqīfiyyah (berdasar dalil),
  • Penghormatan tidak boleh berubah menjadi pengkultusan.
Penjelasan ini sejalan dengan karya para ulama :
  • Imam Mālik (w. 179 H) – al-Muwaṭṭa’
  • Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) – Iqtidhā’ aṣ-Ṣirāṭ al-Mustaqīm
  • Ibnul Qayyim (w. 751 H) – Ighāthat al-Lahfān 
8. Balik Logikanya
  • Jika tabarruk ke kubur dibolehkan, di mana dalil Nabi ﷺ melakukannya ?
  • Jika sekadar wasilah, siapa yang membatasi agar tidak berubah menjadi ibadah ?
  • Jika tradisi jadi hujjah, mengapa Nabi ﷺ justru melarang pengkultusan kubur ?
9. Kesimpulannya 
  • Berkah hanya dari Allah ﷻ dan ketaatan kepada-Nya.
  • Tabarruk ke kuburan tanpa dalil membuka pintu penyimpangan tauhid. 
  • Penghormatan boleh, pengkultusan terlarang.
  • ❌ Membela praktik tanpa dalil adalah kesalahan metodologi, bukan perbedaan ijtihadiyyah.
10. Sikap Seimbang bagi Muslim Awam
  • Hormati orang shalih tanpa mengkultuskan.
  • Berziarah kubur untuk mengingat akhirat dan mendoakan mayit, bukan mencari berkah.
  • Uji setiap amalan ibadah dengan dalil yang jelas.
  • Terima nasihat dengan lapang dada, bukan label.
11. Penutup & Doa

Ya Allah, jaga tauhid kami dari segala bentuk pengaburan.

Ajari kami beragama dengan ilmu dan adab. 

Tunjukkan kebenaran sebagai kebenaran dan mudahkan kami mengikutinya, serta tunjukkan kebatilan sebagai kebatilan dan mudahkan kami menjauhinya.

----------

Jika kebenaran terasa berat, itu bukan karena kebenaran salah, tetapi karena hawa nafsu belum siap tunduk kepadanya.

Wallahu A'lam 🤲 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

❓ Apakah Orang Tua Nabi Muhammad ﷺ Masuk Surga ?

Selamat Datang di Blog Hijrah Butuh Ilmu – Kenapa Kita Harus Hijrah dengan Ilmu?

🌀 Benarkah Semua Golongan Masuk Surga ?