📍 BANTAHAN ILMIAH : “Antara Jam Digital, Hisab, Tradisi Masyarakat, dan Kepercayaan kepada Pemerintah : Mengapa Standar Tetap Ru’yatul Hilal ?”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Kebenaran dalam Islam tidak pernah bergantung pada popularitas, jumlah pengikut, atau kuatnya tradisi.
(Artikel 1.276 = 16/12/2025, Ba'da Dzuhur)
📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel
▶️ YouTube Ustad Firanda Andirja (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
📑 Ebook Terbaru (UFA) : Rambu-Rambu Dakwah : https://s.id/RambuDakwah
📍 BANTAHAN ILMIAH : “Antara Jam Digital, Hisab, Tradisi Masyarakat, dan Kepercayaan kepada Pemerintah : Mengapa Standar Tetap Ru’yatul Hilal ?”
(1) MENETAPKAN STANDAR KEBENARAN : AL-QUR’AN & SUNNAH DENGAN PEMAHAMAN SALAF
Allah ﷻ berfirman (makna) : “Mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan sabit). Katakanlah: ia adalah penunjuk waktu bagi manusia dan (untuk ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 189)
Rasulullah ﷺ bersabda (makna) : “Berpuasalah kalian ketika melihat hilal, dan berbukalah ketika melihat hilal. Jika tertutup mendung, maka sempurnakanlah hitungan Sya‘ban menjadi 30 hari.” (HR. Al-Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081 — shahih)
Rasulullah ﷺ juga bersabda (makna) : “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak menulis dan tidak menghitung…” (HR. Al-Bukhari no. 1913 dan Muslim no. 1080 — shahih)
- Kaidah Salaf yang lahir dari dalil ini : Standar penetapan awal bulan ibadah adalah ru’yatul hilal, bukan perhitungan semata.
- Jika hilal tidak terlihat, dilakukan istikmal (30 hari) — bukan beralih ke hisab.
- Dalam ibadah, metode Nabi ﷺ adalah hujjah, bukan kecanggihan zaman.
(2) RINGKASAN KLAIM PENDEBAT
Alasan-alasan yang sering diajukan untuk meninggalkan ru’yah :
- “Waktu shalat saja sudah pakai jam digital, mengapa hilal masih harus dilihat ?”
- “Zaman sudah canggih, hisab sudah bisa menentukan awal bulan.”
- “Masa saya beda sendiri dari masyarakat / ormas ? Nanti saya puasa atau lebaran sendirian.”
- “Pemerintah tidak bisa dipercaya karena korupsi, lebih aman ikut ormas yang sudah jauh hari menghitung.”
(3) MEMBONGKAR KESALAHAN METODOLOGI
Kesalahan #1 — Menyamakan penentuan waktu shalat dengan penentuan awal bulan
Pelurusan metodologi :
- Waktu shalat ditentukan oleh tanda-tanda matahari (zawal, terbenam, fajar), lalu dibantu jam untuk ketertiban.
- Awal bulan ibadah ditentukan oleh hilal, karena itulah yang diperintahkan Nabi ﷺ, bukan karena keterbatasan teknologi.
Analogi sederhana : Bukan karena “tidak ada jam” Nabi ﷺ memerintahkan ru’yah, tetapi karena ru’yah adalah syariat, bukan sekadar alat.
Kesalahan #2 — Menganggap kecanggihan zaman bisa mengubah metode ibadah
Ibadah tidak ditentukan oleh :
* kecanggihan teknologi,
* logika modern,
* atau kemudahan manusia,
* tetapi oleh wahyu.
Jika kecanggihan boleh mengubah metode ibadah, maka bisa muncul logika :
- “Zaman sudah canggih, tidak perlu wudhu dengan air, cukup sanitizer.”
- “Zaman sudah canggih, tidak perlu sujud di tanah, cukup sujud virtual.”
Ini jelas tertolak.
Kesalahan #3 — Mengutamakan “keseragaman sosial” di atas Sunnah
Argumen : “Masa saya beda sendiri ?”
Pelurusan kaidah Salaf : Kebenaran bukan diukur dengan jumlah orang, tetapi dengan dalil.
Allah ﷻ berfirman (makna) : “Jika engkau menaati kebanyakan orang di bumi, mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘ām: 116)
Mengikuti Sunnah meski sendirian lebih mulia dari pada ikut mayoritas yang menyelisihi Sunnah.
Kesalahan #4 — Menjadikan ketidakpercayaan pada pemerintah sebagai alasan meninggalkan Sunnah
Masalahnya bukan “percaya atau tidak percaya pemerintah”, tetapi :
Apa standar yang diikuti ?
- Jika pemerintah menetapkan berdasarkan ru’yah, maka mengikuti keputusan tersebut termasuk menjaga persatuan yang dibenarkan syariat.
- Jika seseorang menolak hanya karena isu korupsi, itu tidak relevan dengan hukum ibadah.
(4) MELURUSKAN DENGAN DALIL & KAIDAH SALAF
A. Mengapa ru’yah tetap menjadi standar paling aman ?
- Karena ini perintah langsung Nabi ﷺ.
- Karena ini praktik Sahabat, Tabi‘in, dan Tabi‘ut Tabi‘in.
- Karena ini menjaga kesederhanaan syariat.
- Karena ini meminimalkan perselisihan metodologi.
Imam Malik (w. 179 H) berkata secara makna : “Tidak akan baik keadaan umat ini kecuali dengan apa yang membuat baik generasi awalnya.” (Makna dari perkataan beliau)
Jika hisab murni lebih baik, tentu Salaf sudah meninggalkan ru’yah — tetapi mereka tidak melakukannya.
B. Di mana posisi hisab menurut Salaf ?
- Hisab boleh dipakai sebagai alat bantu untuk memperkirakan kemungkinan terlihatnya hilal.
- Tetapi bukan pengganti ru’yah dalam penetapan ibadah.
Pendapat paling aman bagi umat : Tetap berpegang pada ru’yah, sebagaimana Sunnah.
(5) KONTRADIKSI INTERNAL DALAM ALASAN-ALASAN TERSEBUT
- Jika jam digital boleh mengganti ru’yah, mengapa tidak mengganti wudhu atau shalat ?
- Jika “zaman canggih” jadi standar, mengapa tidak semua ibadah diubah ?
- Jika alasan “tidak mau beda sendiri” dibenarkan, lalu di mana makna mengikuti Sunnah ?
- Jika ketidakpercayaan pada pemerintah membolehkan meninggalkan ru’yah, apakah ini juga berlaku pada keputusan-keputusan syar‘i lain ?
(6) TIGA PERTANYAAN ‘BALIK LOGIKA’
- Jika ru’yah hanya karena keterbatasan zaman Nabi ﷺ, mengapa beliau tetap memerintahkannya secara mutlak tanpa pengecualian ?
- Jika hisab murni lebih baik, mengapa generasi terbaik tidak menggunakannya untuk ibadah ?
- Apakah Anda siap meninggalkan Sunnah hanya agar tidak berbeda dengan masyarakat atau ormas ?
(7) FAKTA NYATA DI LAPANGAN
- Di banyak tempat, hisab dipakai bukan sebagai alat bantu, tetapi sebagai pengganti Sunnah.
- Akibatnya muncul perbedaan hari raya yang berulang setiap tahun.
- Sebagian orang lebih loyal pada ormas / metode dari pada dalil.
(8) MEMBONGKAR MOTIF
Secara umum, motif yang sering muncul :
- Keinginan mengikuti kemudahan dan kepastian jadwal.
- Takut berbeda dari lingkungan sosial.
- Loyalitas berlebihan kepada ormas.
- Kecurigaan kepada pemerintah.
Ini manusiawi, tetapi bukan standar kebenaran dalam agama.
(9) KESIMPULAN (BERDASARKAN DALIL & MANHAJ SALAF)
- Standar penetapan awal bulan ibadah adalah ru’yatul hilal.
- Jam digital dan kecanggihan hisab tidak mengubah perintah Nabi ﷺ.
- Mengikuti mayoritas atau ormas bukan hujjah jika menyelisihi Sunnah.
- Ketidakpercayaan pada pemerintah tidak membolehkan meninggalkan ru’yah bila pemerintah menetapkan berdasarkan Sunnah.
Pendapat paling aman : tetap berpegang pada ru’yah, sebagaimana praktik Salaf.
(10) PENUTUP & DOA
Semoga Allah ﷻ :
- Membimbing kita untuk mengikuti Sunnah Nabi ﷺ,
- Menjauhkan kita dari fanatisme metode atau kelompok,
- Menyatukan hati umat di atas dalil,
- Dan menjadikan kita tunduk kepada wahyu, bukan kepada hawa nafsu atau kebiasaan.
Ya Allah, tunjukilah kami kepada kebenaran yang paling dekat dengan Sunnah Nabi-Mu ﷺ, dan jadikan kami orang-orang yang berani mengikutinya meski berbeda dengan manusia.
----------
Tidak ada kehormatan dalam mempertahankan kekeliruan, sebagaimana tidak ada kehinaan dalam kembali kepada kebenaran.
Wallahu A'lam 🤲
Komentar
Posting Komentar