🔥 BANTAHAN TERHADAP NARASI : “Buah agama adalah kesalehan sosial, tradisi dakwah menjadi budaya, dan manhaj salaf menebang pohon agama”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
🎯 Banyak hal dalam hidup ini kita lakukan dengan penuh semangat, namun ada satu hal yang justru sering kita hindari untuk dibicarakan : kebenaran yang menuntut perubahan.
📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel
▶️ YouTube Ustad Firanda Andirja (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
(Artikel 1.193 = 29/11/2025, Ba'da Magrib)
🔥 BANTAHAN TERHADAP NARASI : “Buah agama adalah kesalehan sosial, tradisi dakwah menjadi budaya, dan manhaj salaf menebang pohon agama”
1. Kesalahan Besar : Membalik Urutan Agama
Pernyataan :
“Buah agama adalah kesalehan sosial.”
👉 Ini benar, tapi tidak lengkap.
Masalahnya, pendebat membalik urutan.
Urutan yang benar dalam Islam :
* Tauhid yang benar
* Ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ
* Ibadah sesuai Sunnah
* Baru lahir akhlak & kesalehan sosial
❌ Bukan sebaliknya.
Jika kesalehan sosial dijadikan tolok ukur kebenaran ibadah, maka :
- Orang kafir yang dermawan jadi benar agamanya
- Ateis yang jujur lebih lurus dari Nabi ﷺ
- Agama dinilai dari dampak sosial, bukan wahyu
👉 Ini sekularisasi agama secara halus.
2. Islam Tidak Diukur dari “Buah” Saja, Tapi dari AKAR
Pendebat berkata :
“Budaya agamis menjaga akhlak sosial.”
Benar, jika akarnya benar.
Masalahnya :
- Mereka ingin mempertahankan buah,
- sambil mengabaikan apakah akarnya dari wahyu atau tidak.
Analogi sederhana :
- Pohon berbuah manis tidak otomatis halal
- Jika akarnya beracun, buahnya tetap berbahaya
Allah ﷻ tidak pernah menilai ibadah dari “manfaat sosial” semata, tetapi dari kesesuaiannya dengan perintah-Nya.
3. Kekeliruan Fatal : Menyamakan SIYASAH DAKWAH dengan IBADAH
Ini titik paling rusak dalam argumen mereka.
Benar :
* media dakwah
* bahasa
* metode komunikasi
➡ boleh menyesuaikan zaman
TAPI :
* IBADAH tidak boleh diijtihadkan
* RITUAL tidak boleh dikreasikan
* AMALAN PAHALA tidak boleh dibuat
Kaidah salaf :
“Cara dakwah boleh beragam, tetapi isi agama tidak boleh berubah.”
Tahlilan, yasinan, ritual kematian :
* bukan sekadar media
* tapi ibadah yang diniatkan pahala
* maka harus ada dalil
4. Tuduhan “Manhaj Salaf Menebang Pohon” adalah FITNAH LOGIKA
Pendebat berkata :
“Manhaj salafi menebang pohon agama.”
Ini retorika emosional, bukan hujjah ilmiah.
Faktanya :
Manhaj salaf tidak menebang agama
Tapi membersihkan parasit di pohon agama
Analogi :
- membersihkan pohon dari benalu tidak sama artinya dengan menebang pohon
- justru agar pohon hidup sehat dan berbuah benar
Manhaj salaf :
* tidak menghapus sedekah
* tidak menghapus silaturahmi
* tidak menghapus tolong-menolong
Yang dihapus :
❌ ritual tanpa dalil
❌ ibadah buatan
❌ tradisi yang disakralkan
5. Dalih “Takut Otoritarianisme Agama” adalah Pengalihan Isu
Pendebat membawa narasi :
“Jangan sampai agama dipaksakan seperti sejarah kelam.”
Ini strawman fallacy (menyerang sesuatu yang tidak diklaim).
Manhaj salaf :
* tidak memaksa
* tidak menghukum masyarakat
* tidak memenjarakan orang awam
Manhaj salaf hanya mengatakan :
“Ini ada dalilnya.”
“Ini tidak ada dalilnya.”
👉 Menyampaikan kebenaran bukan pemaksaan.
6. Ibnu Taimiyah DIPENJARA BUKAN KARENA KETAATAN, TAPI KARENA MELAWAN BID’AH
Mereka menyebut :
“Ibnu Taimiyah juga dipenjara.”
Benar.
Dan itu justru hujjah melawan mereka.
Ibnu Taimiyah dipenjara karena :
- melawan bid’ah
- melawan penyimpangan
- melawan ritual yang dianggap sakral oleh masyarakat
👉 Sejarah justru berpihak pada manhaj salaf.
7. Kesalehan Sosial TANPA TAUHID BENAR TIDAK MENYELAMATKAN
Islam tidak pernah mengajarkan :
“Yang penting akhlaknya baik.”
Jika itu kaidahnya :
- Abu Thalib masuk surga
- Iblis paling berilmu jadi wali
- Rasulullah ﷺ mengutamakan tauhid, bahkan ketika masyarakat Quraisy punya akhlak sosial tertentu.
8. Kesimpulannya
Narasi pendebat ini rusak karena :
- Membalik urutan agama
- Mengukur kebenaran dari dampak sosial
- Menyamakan metode dakwah dengan ibadah
- Menyerang manhaj dengan emosi, bukan dalil
- Takut pada “kehilangan budaya” lebih dari takut menyelisihi Rasulullah ﷺ
Kalimat penutup yang membungkam :
- Kami tidak menebang pohon agama.
- Kami menolak benalu yang tidak ditanam Rasulullah ﷺ.
Islam tidak dibangun di atas budaya, tapi budaya harus tunduk kepada Islam.
----------
Tugas kita hanyalah menyampaikan dan saling mengingatkan.
Hidayah sepenuhnya milik Allah ﷻ, Dia memberi kepada siapa yang Dia kehendaki.
Wallahu A'lam 🤲
Komentar
Posting Komentar