🎯 Bantahan Ilmiah terhadap Penetapan 1 Syawal 1447 H dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Tidak semua yang diwariskan kepada kita adalah kebenaran, dan tidak semua yang terasa asing adalah kesalahan. Islam mengajarkan untuk menimbang, bukan sekadar mengikuti.
(Artikel 1.357 = 31/12/2025, Ba'da Subuh)
📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel
▶️ YouTube Ustad Firanda Andirja (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
📑 Ebook Terbaru (UFA) : Rambu-Rambu Dakwah : https://s.id/RambuDakwah
🎯 Bantahan Ilmiah terhadap Penetapan 1 Syawal 1447 H dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)
1. Fenomena Munculnya Narasi KHGT
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul gagasan yang dikenal dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang berusaha menyatukan penentuan awal bulan Islam secara global.
Pendukungnya berpendapat bahwa seluruh dunia harus menggunakan satu kalender yang sama sehingga Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dimulai secara serentak di seluruh bumi.
Secara sekilas gagasan ini tampak menarik karena berbicara tentang persatuan umat Islam.
Namun dalam metodologi ilmiah Islam, kebenaran tidak diukur dari slogan atau tujuan yang tampak baik, melainkan dari :
* kesesuaiannya dengan dalil syariat
* kesesuaiannya dengan praktik generasi awal Islam
* kesesuaiannya dengan logika syariat.
Ketika gagasan KHGT diuji dengan tiga standar ini, muncul sejumlah masalah mendasar.
2. Menyebutkan Syubhat Secara Jelas
Narasi yang disampaikan dalam situs resminya tersebut pada intinya menyatakan :
“Bumi dianggap sebagai satu kesatuan matlak sehingga awal bulan berlaku serentak untuk seluruh dunia.”
Kemudian awal bulan ditentukan berdasarkan parameter astronomi tertentu, seperti :
* elongasi minimal 8°
* tinggi hilal minimal 5°
* terpenuhinya parameter tersebut di salah satu tempat di dunia sebelum waktu tertentu.
Dengan terpenuhinya parameter tersebut, maka seluruh dunia dianggap telah memasuki bulan baru.
3. Membedah Akar Kesalahan Syubhat
Kesalahan utama dalam konsep ini muncul dari beberapa hal.
A. Kesalahan definisi
Dalam KHGT, awal bulan tidak lagi ditentukan oleh rukyat hilal, tetapi oleh parameter astronomi matematis.
Padahal dalam syariat, penentuan awal bulan merupakan ibadah yang memiliki metode tertentu.
B. Kesalahan logika
KHGT berasumsi bahwa seluruh bumi harus memiliki awal bulan yang sama.
Padahal dalam syariat Islam, ibadah sering kali berkaitan dengan kondisi lokal wilayah.
C. Kesalahan memahami dalil
Hadits-hadits tentang rukyat hilal dipahami sebagai sekadar metode teknis, bukan sebagai metode syariat yang bersifat tetap.
Padahal para ulama memahami bahwa metode tersebut adalah tuntunan Nabi ﷺ dalam ibadah.
4. Prinsip Dasar Syariat dalam Masalah Ini
Dalam Islam terdapat kaidah besar : ibadah bersifat tauqifiyah.
Artinya ibadah hanya boleh dilakukan berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Karena itu metode penentuan awal bulan tidak boleh ditentukan berdasarkan teori manusia, tetapi harus mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
5. Dalil Al-Qur’an
Allah ﷻ berfirman (maknanya) : “Barang siapa di antara kalian menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah : 185)
Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban puasa berkaitan dengan kesaksian terhadap bulan, bukan dengan simulasi matematis.
6. Dalil Hadits
Rasulullah ﷺ bersabda (maknanya) : “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Jika hilal tertutup bagi kalian maka sempurnakanlah hitungan bulan menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari no. 1909, Muslim no. 1081, shahih)
Hadits ini menjelaskan dua metode syariat :
* rukyat hilal
* istikmal (menyempurnakan 30 hari)
Tidak ada metode ketiga.
7. Penjelasan Ulama
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menjelaskan dalam Majmu’ Al-Fatawa bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa awal Ramadhan dan Syawal ditetapkan dengan rukyat hilal atau istikmal, bukan dengan hisab astronomi.
Beliau menjelaskan bahwa menjadikan hisab sebagai dasar ibadah bertentangan dengan metode yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
8. Menghancurkan Logika Syubhat
Ada kontradiksi logika yang sangat jelas dalam konsep KHGT.
Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa penduduk Syam telah melihat hilal, namun Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma di Madinah tidak mengikuti rukyat tersebut (HR. Muslim no. 1087)
Padahal jarak Syam dan Madinah sekitar 1.000 km.
Ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami adanya perbedaan rukyat antar wilayah.
Namun dalam KHGT, awal bulan ditentukan dari wilayah yang jaraknya bisa mencapai ribuan kilometer (± 10.000 dari Indonesia) dari wilayah lain.
Jika jarak sekitar 1.000 km saja tidak disamakan oleh para sahabat, maka bagaimana mungkin jarak ribuan kilometer dijadikan dasar global ?
9. Membuka Manipulasi Istilah
Dalam diskusi tentang KHGT sering muncul istilah seperti :
“kesatuan umat”
atau
“persatuan kalender Islam”.
Istilah ini tampak positif, namun sering digunakan untuk menutupi persoalan metodologis.
Persatuan umat tidak harus berarti seluruh dunia berpuasa pada hari yang sama.
Perbedaan waktu shalat antar wilayah saja sudah menunjukkan bahwa ibadah dalam Islam berkaitan dengan kondisi lokal.
10. Memahami Realita yang Terjadi di Masyarakat
Sebagian umat Islam menerima gagasan KHGT karena beberapa alasan :
* ingin menyatukan umat
* menganggap metode astronomi lebih ilmiah
* kurang memahami dalil tentang rukyat hilal.
Namun dalam ibadah, ukuran kebenaran bukanlah tingkat kecanggihan metode, melainkan kesesuaiannya dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.
11. Meluruskan Kesalahpahaman Umum
A. Kesalahpahaman pertama : “Ilmu astronomi lebih akurat daripada rukyat.”
Jawabannya : Akurasi ilmiah tidak otomatis menggantikan metode ibadah yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.
B. Kesalahpahaman kedua : “Umat Islam harus memiliki satu kalender global.”
Jawabannya : Tidak ada dalil yang mewajibkan seluruh dunia memiliki satu kalender ibadah.
C. Kesalahpahaman ketiga : “Rukyat adalah metode kuno.”
Jawabannya : Rukyat adalah metode yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
12. Standar Kebenaran dalam Islam
Ukuran kebenaran dalam Islam adalah :
* Al-Qur’an
* Sunnah Rasulullah ﷺ
* pemahaman para sahabat.
Bukan :
* teori ilmiah modern
* kesepakatan organisasi
* atau sistem kalender global.
13. Kesimpulan
Jika diteliti secara mendalam, konsep KHGT menghadapi beberapa masalah mendasar :
* mengganti metode rukyat dengan parameter astronomi
* bertentangan dengan praktik sahabat
* menjadikan simulasi teoritis sebagai dasar ibadah.
Karena itu konsep ini perlu dikaji kembali secara ilmiah berdasarkan dalil dan metode yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
14. Sikap Seorang Muslim
Dalam masalah ibadah, seorang muslim hendaknya kembali kepada metode yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Yaitu :
* melihat hilal
* atau menyempurnakan bulan menjadi tiga puluh hari.
Metode ini diamalkan oleh para sahabat dan umat Islam sepanjang sejarah.
15. Nasihat Penutup
Perbedaan dalam masalah ini hendaknya dibahas dengan ilmu dan adab.
Tujuan dari pembahasan ini bukan untuk menyerang pihak tertentu, tetapi untuk menjaga agar metode ibadah tetap sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.
Semoga Allah ﷻ membimbing umat Islam kepada kebenaran dan menyatukan hati mereka di atas petunjuk-Nya.
Aamiin ya rabbal alamin 🤲.
-----------
Hati yang ikhlas tidak sibuk mempertahankan kebiasaan, tetapi sibuk mencari ridha Allah ﷻ meski harus meninggalkan yang sudah lama dicintai.
Wallahu A'lam 🤲.
Komentar
Posting Komentar