📢 Komentar : Terbukti, sebelum manhaj salafii yang ini itu.. muslim non manhaj salafi sudah ambil sikap yang jelas dan tegas terhadap gaya ber Islam dari embrio LDII
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Banyak orang yakin dirinya berada di atas kebenaran. Tetapi pertanyaannya : keyakinan itu berdiri di atas wahyu, atau hanya di atas warisan lingkungan dan tokoh yang diikutinya ?
(Artikel 1.442 = 17/01/2026, Ba'da Subuh)
📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel
▶️ YouTube (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
📑 Ebook Terbaru (UFA) : Rambu-Rambu Dakwah : https://s.id/RambuDakwah
📢 Komentar : Terbukti, sebelum manhaj salafii yang ini itu.. muslim non manhaj salafi sudah ambil sikap yang jelas dan tegas terhadap gaya ber Islam dari embrio LDII
Bantahannya :
* Masalahnya bukan : siapa yang lebih dulu menolak LDII.
* Masalahnya adalah : siapa yang menilai dengan manhaj yang benar.
Kalau ada non-salafi lebih dulu bersikap tegas terhadap satu penyimpangan, itu tidak otomatis membuktikan manhajnya lurus secara umum.
Seseorang bisa benar dalam satu masalah, tapi salah dalam masalah lain.
Ukuran kebenaran dalam agama bukan siapa yang lebih dulu, bukan juga siapa yang paling keras, tetapi siapa yang paling sesuai dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman sahabat.
Allah ﷻ berfirman : “Barang siapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang dipilihnya.” (QS. An-Nisa’: 115)
Ayat ini mematikan logika tadi.
Yang jadi ukuran bukan “muslim non-salafi juga sudah menolak”, tetapi apakah dia mengikuti jalan para sahabat atau tidak.
Rasulullah ﷺ bersabda : “Wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku.” (HR. Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, shahih)
Jadi, manhaj salafi bukan dinilai dari klaim kelompok, tetapi dari nisbahnya kepada sunnah dan jalan salaf.
Kesalahan ucapan itu adalah : dia memindahkan standar dari dalil kepada sejarah sikap kelompok.
Padahal, lebih dulu menolak penyimpangan bukan bukti otomatis bahwa seluruh manhajnya benar.
Kalau ada orang menolak LDII tapi di sisi lain membela bid’ah lain, kuburiyyah, ritual tanpa dalil, atau pemahaman yang menyelisihi sahabat, maka dia tidak bisa dijadikan ukuran kebenaran.
Jadi jawabannya : yang dipuji bukan sekadar sikap anti-LDII, tetapi sikap yang dibangun di atas manhaj salaf.
* Kalau benar, kita terima kebenarannya.
* Kalau salah, tetap kita tolak kesalahannya.
Kesimpulannya : kebenaran tidak diukur dari siapa yang lebih dulu menolak penyimpangan, tetapi dari siapa yang paling lurus mengikuti Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman sahabat.
----------
Hidup ini singkat, dan kesempatan untuk bertaubat tidak selalu datang dua kali. Maka jangan menunda kembali kepada sunnah, karena kita tidak pernah tahu kapan Allah ﷻ memanggil kita.
Wallahu A'lam 🤲.
Komentar
Posting Komentar