SYARAH KITAB : Hilyah Thalibul ‘Ilm
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
(Artikel 1.389 = 06/01/2026, Ba'da Ashar)
📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel
▶️ YouTube Ustad Firanda Andirja (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
📑 Ebook Terbaru (UFA) : Rambu-Rambu Dakwah : https://s.id/RambuDakwah
✍️ SYARAH KITAB : Hilyah Thalibul ‘Ilm
Bab 1 : Hiasan Dasar Seorang Penuntut Ilmu
1. Pembukaan Konteks Bab
Bab pertama dari kitab Hilyah Thalibul ‘Ilm sangat penting, karena Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah (w. 1429 H) tidak memulai pembinaan penuntut ilmu dengan banyaknya hafalan, keluasan bacaan, atau kemampuan berbicara, tetapi dengan hiasan batin dan adab. Ini menunjukkan bahwa menurut para ulama, jalan ilmu tidak dibangun pertama kali dengan kepandaian lisan, tetapi dengan kelurusan hati dan adab yang benar.
Ini sangat relevan dengan kondisi umat saat ini. Banyak orang semangat belajar agama, menghadiri kajian, menonton ceramah, mengoleksi kitab, bahkan aktif berdakwah di media sosial.
Namun pada saat yang sama, tidak sedikit yang justru :
* mudah meremehkan orang lain,
* cepat berbicara sebelum matang ilmunya,
* menjadikan ilmu sebagai alat mencari kedudukan,
* senang dipuji sebagai “ustadz”, “akhi berilmu”, atau “pejuang sunnah”,
* keras dalam ucapan tetapi lemah dalam muhasabah diri.
Di sinilah pentingnya bab ini. Penuntut ilmu harus paham bahwa ilmu bukan sekadar isi kepala, tetapi harus menjadi hiasan bagi jiwa, pembentuk akhlak, pengarah langkah, dan penjaga hati dari penyakit riya’, ujub, dan kesombongan. Kalau ilmu tidak melahirkan adab, maka yang tumbuh bukan cahaya, tetapi fitnah.
Maka posisi bab ini dalam pembinaan penuntut ilmu adalah sebagai pondasi awal. Sebelum berbicara tentang metode belajar, urutan kitab, talaqqi, hafalan, atau dakwah, seorang penuntut ilmu harus terlebih dahulu dibina menjadi manusia yang takut kepada Allah ﷻ, ikhlas, tawadhu’, dan beradab.
2. Teks Matan Kitab
Penulis kitab berkata (maknanya) : “Seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan adab yang mulia, membersihkan niatnya, menjaga kehormatan dirinya, dan menempuh jalan ilmu dengan akhlak yang benar. Ilmu bukan sekadar kumpulan informasi, tetapi jalan ibadah yang menuntut ketakwaan, kejujuran, dan ketulusan.”
Makna ini sejalan dengan ruh keseluruhan kitab Hilyah Thalibul ‘Ilm, yaitu bahwa penuntut ilmu harus memiliki hilyah — hiasan, perhiasan, karakter mulia — yang membedakannya dari orang yang sekadar membaca atau berbicara tentang agama.
3. Penjelasan Makna Umum Bab
Inti pembahasan bab ini adalah bahwa penuntut ilmu tidak cukup hanya belajar, tetapi harus berhias dengan sifat-sifat yang menjadikan ilmunya bermanfaat. Kata hilyah sendiri menunjukkan makna hiasan. Jadi, ilmu itu memiliki pakaian. Ilmu itu memiliki kemuliaan. Ilmu itu ada adabnya. Dan orang yang membawa ilmu harus tampak pengaruh ilmu itu pada sikapnya.
Maksud penulis kitab bukan sekadar mendorong akhlak baik secara umum. Yang lebih dalam dari itu adalah: ilmu syar’i adalah ibadah, maka cara menuntutnya pun harus sesuai dengan adab ibadah. Orang yang shalat tanpa wudhu tidak diterima shalatnya. Demikian pula orang yang menuntut ilmu dengan niat rusak, hati sombong, lisan kasar, dan ambisi dunia, maka ia telah merusak jalan ilmu itu sendiri.
Konsep utama bab ini adalah :
* ilmu harus dibangun di atas ikhlas,
* ilmu harus melahirkan takwa,
* ilmu harus menumbuhkan tawadhu’,
* ilmu harus menjaga seseorang dari kesombongan,
* ilmu harus membuat seseorang semakin takut kepada Allah ﷻ, bukan semakin kagum kepada dirinya sendiri.
Karena itu para ulama dahulu sangat menekankan adab. Mereka paham bahwa kerusakan penuntut ilmu bukan selalu karena kurang hafal, tetapi sering karena rusak niat, rusak adab, dan rusak cara memposisikan ilmu.
4. Dalil Al-Qur’an dan Hadits
Al-Qur’an :
Allah ﷻ berfirman (maknanya) : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 58:11)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu memang meninggikan derajat. Tetapi yang diangkat bukan sekadar orang berpengetahuan, melainkan orang beriman dan orang berilmu. Ini menunjukkan bahwa ilmu yang mulia harus menyatu dengan iman, bukan ilmu kering yang melahirkan kesombongan.
Allah ﷻ berfirman (maknanya) : “Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 39:9)
Ayat ini menegaskan kemuliaan ilmu. Namun kemuliaan itu bukan lisensi untuk angkuh. Justru ketika seseorang tahu kemuliaan ilmu, ia harus semakin takut menyalahgunakan ilmu tersebut.
Allah ﷻ berfirman (maknanya) : “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 35:28)
Ini dalil sangat penting dalam bab ini. Ciri ilmu yang benar bukan pertama kali banyak bicara, tetapi banyak takut kepada Allah ﷻ. Maka bila seseorang makin berilmu tetapi makin keras hati, suka merendahkan, dan ringan menuduh tanpa ilmu, itu tanda ada kerusakan pada keberkahan ilmunya.
Hadits :
Rasulullah ﷺ bersabda (maknanya) : “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 1, Muslim no. 1907, shahih)
Hadits ini adalah pondasi besar dalam bab ini. Menuntut ilmu adalah amal. Maka niatnya harus lurus. Jika ilmu dituntut untuk dipuji, didebatkan, atau mencari dunia, maka kerusakan akan masuk dari pintu niat.
Rasulullah ﷺ bersabda (maknanya) : “Barang siapa menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699, shahih)
Ini menunjukkan menuntut ilmu adalah jalan ibadah dan jalan menuju surga. Karena itu tidak layak jalan yang mulia ini ditempuh dengan hati yang kotor, niat yang rusak, dan adab yang buruk.
Rasulullah ﷺ bersabda (maknanya) : “Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharap wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3664, shahih)
Hadits ini sangat keras dan sangat tepat dalam pembahasan ini. Artinya, ilmu syar’i bila dijadikan tangga dunia, kedudukan, bisnis citra, atau alat menguasai orang lain, maka itu bukan kemuliaan, tetapi ancaman.
5. Penjelasan Ilmiah Ulama
Imam An-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) dalam Al-Majmu’ dan juga dalam karya-karya adab ilmu beliau menekankan bahwa penuntut ilmu wajib mengikhlaskan niatnya, membersihkan hatinya dari tujuan dunia, dan menghiasi dirinya dengan adab yang mulia. Maknanya jelas: ilmu bukan hanya perkara memahami hukum, tetapi juga memperbaiki pembawanya.
Ibnul Qayyim rahimahullah (w. 751 H) dalam Miftah Daris Sa‘adah menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang masuk ke hati lalu menumbuhkan penghambaan, ketundukan, dan rasa takut kepada Allah ﷻ. Jadi manfaat ilmu bukan diukur pertama kali dari banyaknya bahan bicara, tetapi dari besarnya pengaruh ilmu itu dalam hati dan amal.
Adz-Dzahabi rahimahullah (w. 748 H) dalam Siyar A‘lam an-Nubala’ berkali-kali menunjukkan bahwa para ulama besar bukan hanya dipuji karena hafalan mereka, tetapi karena wara’, tawadhu’, kejujuran, dan takutnya mereka kepada Allah ﷻ. Ini pelajaran besar: yang membuat ilmu bercahaya adalah adab.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H) dalam Majmu‘ Al-Fatawa menjelaskan makna yang kuat bahwa ilmu yang dipuji syariat adalah ilmu yang membawa kepada iman dan amal. Bila ilmu malah menjadi sarana kesombongan atau perpecahan yang batil, maka itu menunjukkan adanya kerusakan dalam memahami ilmu.
Dari rangkaian penjelasan ulama ini terlihat satu garis yang sangat tegas: adab bukan pelengkap ilmu, tetapi penjaga ilmu. Tanpa adab, ilmu sangat mudah berubah menjadi fitnah.
6. Analisis Ilmiah dan Logika Syar’i
Mengapa bab ini diletakkan di awal? Karena dalam logika syar’i, sesuatu yang mulia harus dijaga dengan adab yang mulia. Ilmu adalah jalan menuju Allah ﷻ. Maka mustahil jalan itu ditempuh dengan kecerobohan batin.
Perhatikan baik-baik. Orang yang membawa uang sedikit saja biasanya menjaga dompetnya. Orang yang membawa barang berharga akan hati-hati menyimpannya. Lalu bagaimana dengan ilmu syar’i yang nilainya jauh lebih tinggi daripada dunia? Bukankah seharusnya lebih dijaga lagi? Penjagaan pertama terhadap ilmu bukan lemari kitab, tetapi hati penuntut ilmu.
Seseorang mungkin bisa hafal banyak, tetapi kalau ia tidak punya adab, maka hafalannya bisa menjadi bahan untuk merendahkan orang. Seseorang mungkin cerdas dalam berdalil, tetapi bila tidak punya ikhlas, dalil itu bisa ia gunakan untuk mencari nama. Seseorang mungkin rajin hadir kajian, tetapi bila tidak punya tawadhu’, kehadirannya hanya menambah rasa bangga diri.
Maka dari sini kita paham bahwa kerusakan penuntut ilmu ada dua :
* Pertama, kerusakan ilmu : salah paham, dangkal, tidak kokoh.
* Kedua, kerusakan jiwa pembawa ilmu : sombong, riya’, ingin terkenal, kasar, senang menang sendiri.
Kadang kerusakan kedua lebih berbahaya. Sebab orang yang ilmunya sedikit namun sadar diri masih mungkin belajar. Tetapi orang yang sudah merasa dirinya ahli, padahal rusak adabnya, justru sulit menerima nasihat.
Karena itu pembinaan penuntut ilmu harus dimulai dari pertanyaan besar :
* Untuk apa saya belajar?
* Apakah untuk Allah ﷻ, atau untuk penilaian manusia?
* Apakah untuk memperbaiki diri, atau untuk mengalahkan orang lain?
* Apakah untuk mengikuti kebenaran, atau untuk membela kelompok dan ego?
Di sinilah letak kejujuran seorang penuntut ilmu. Dan kejujuran ini tidak bisa dipalsukan lama-lama. Cepat atau lambat, niat dan adab akan tampak dalam lisan, sikap, cara berdiskusi, cara menyikapi kritik, dan cara memandang sesama Muslim.
7. Hubungan Dengan Realita Kehidupan
Kalau kita lihat realita masyarakat hari ini, pembahasan bab ini sangat hidup.
Banyak penuntut ilmu pemula terlalu cepat ingin tampil. Baru belajar sebentar, sudah ingin mengoreksi semua orang. Baru membaca satu-dua buku, sudah merasa paham seluruh persoalan. Baru mengenal istilah-istilah syar’i, sudah ringan menuduh orang lain tanpa ilmu yang matang.
Di media sosial, fenomena ini lebih jelas lagi. Ada yang menjadikan potongan dalil sebagai bahan konten, tetapi tidak terlihat pengaruh ilmu itu pada kesabaran, adab, dan kejujurannya. Ada yang semangat membela sunnah, tetapi caranya penuh ujub, sibuk mencari tepuk tangan pengikut, dan lebih takut kehilangan popularitas daripada takut salah di hadapan Allah ﷻ.
Ada pula yang belajar agama hanya untuk memperkuat identitas kelompok. Jadi bukan mencari kebenaran, tetapi mencari amunisi untuk menyerang. Ini bahaya. Ilmu yang seharusnya membimbing hati malah diubah menjadi senjata ego.
Di sisi lain, ada juga masyarakat awam yang menyangka bahwa ukuran alim adalah :
* pandai bicara,
* banyak pengikut,
* sering tampil,
* banyak istilah Arab,
* berani menyalahkan orang lain.
Padahal semua itu bukan ukuran utama.
Ukuran utamanya adalah : apakah ilmunya benar, akhlaknya lurus, niatnya ikhlas, dan jalannya sesuai manhaj Salaf?
Bab ini mengajarkan agar masyarakat tidak tertipu oleh tampilan luar. Penuntut ilmu sejati itu bukan orang yang sekadar kelihatan berilmu, tetapi orang yang terlihat takut kepada Allah ﷻ.
8. Peringatan Terhadap Penyimpangan
Dalam pembahasan ini ada beberapa penyimpangan yang perlu diperingatkan secara tegas.
Pertama : menuntut ilmu untuk dunia
Ini penyimpangan besar. Ilmu syar’i dijadikan jalan mencari nama, kedudukan, kekuasaan, pemasukan, atau pengaruh. Bukan berarti setiap orang yang menerima honor otomatis salah. Bukan itu pembahasannya. Yang salah adalah menjadikan dunia sebagai tujuan utama ilmu. Ini ancaman keras dalam hadits.
Kedua : merasa cukup dengan banyak pengetahuan tanpa adab
Ini juga penyimpangan. Ada orang yang merasa kalau sudah bisa berdalil maka ia bebas berbicara sesukanya. Padahal syariat tidak memisahkan antara ilmu dan adab. Bahkan sebagian Salaf lebih dulu mempelajari adab sebelum banyak ilmu.
Ketiga : memahami ilmu sebagai alat debat
Sebagian orang belajar bukan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya, tetapi untuk memenangkan bantahan. Akhirnya ilmu tidak menumbuhkan rasa takut, tetapi justru menumbuhkan nafsu bermusuhan. Ini penyakit hati yang berat.
Keempat : menggampangkan niat
Ada yang berkata, “Yang penting ilmunya benar, soal niat urusan belakang.” Ini salah. Dalam Islam, lurusnya tujuan dan lurusnya cara sama-sama penting. Amal tanpa ikhlas rusak. Ikhlas tanpa ittiba’ juga rusak. Maka penuntut ilmu harus membenahi dua-duanya.
Kelima : meremehkan adab atas nama semangat sunnah
Ini juga kesalahan. Ada yang mengira kalau ia sedang membela kebenaran maka ia tidak perlu lagi menjaga kelembutan, kejujuran, dan keadilan. Ini keliru. Sunnah tidak ditegakkan dengan hawa nafsu. Kebenaran tetap harus dibawa dengan adab syar’i.
9. Meluruskan Beberapa Kesalahpahaman Yang Sering Muncul
1. “Yang penting ilmu dulu, adab nanti mengikuti.”
Ini salah. Ilmu tanpa adab justru bisa mempercepat kerusakan. Orang bodoh yang sadar diri masih mungkin diam. Tetapi orang berilmu tanpa adab bisa merusak banyak orang. Karena itu para ulama menekankan adab sejak awal.
2. “Kalau niat bercampur dunia sedikit, tidak masalah.”
Ini perlu dirinci. Manusia bisa diuji dengan kelemahan. Tetapi menjadikan dunia sebagai pendorong utama ilmu adalah bahaya besar. Penuntut ilmu harus terus memeriksa niatnya, melawannya, dan memperbaikinya. Bukan membiarkannya.
3. “Kalau seseorang tegas, berarti dia pasti benar.”
Tidak. Ketegasan bukan ukuran kebenaran. Bisa jadi orang tegas karena ilmu, bisa juga karena ego. Ukuran kebenaran adalah dalil dan pemahaman Salaf, bukan gaya bicara.
4. “Kalau sudah aktif berdakwah, berarti adabnya pasti bagus.”
Belum tentu. Aktivitas dakwah tidak otomatis menunjukkan kebersihan hati. Karena itu penuntut ilmu harus terus bermuhasabah. Dakwah adalah amanah, bukan bukti bahwa seseorang sudah selamat dari penyakit hati.
5. “Adab itu hanya sopan santun biasa.”
Ini juga salah. Adab dalam menuntut ilmu bukan sekadar tata krama sosial. Adab adalah bagian dari agama: ikhlas, tawadhu’, jujur, sabar, hormat kepada guru, tidak ujub, tidak riya’, dan menempatkan ilmu pada kemuliaannya.
10. Memahami Realita Yang Terjadi di Masyarakat
Fenomena yang banyak terjadi hari ini adalah ledakan akses ilmu tanpa pembinaan adab yang seimbang. Orang mudah mendapatkan video, potongan kajian, PDF, kutipan, dan ceramah singkat. Ini ada manfaatnya, tetapi juga melahirkan masalah.
Sebab-sebabnya :
* Pertama, belajar agama sering dilakukan secara instan.
* Kedua, budaya tampil lebih kuat daripada budaya talaqqi dan kesabaran.
* Ketiga, masyarakat lebih tertarik kepada yang viral daripada yang matang ilmunya.
* Keempat, sebagian penuntut ilmu terlalu cepat masuk ke ruang debat dan dakwah publik.
* Kelima, muhasabah hati kurang, tetapi semangat bicara tinggi.
Dampaknya terhadap umat :
* lahir generasi yang banyak bicara tetapi dangkal,
* mudah terjadi pertengkaran atas nama agama,
* masyarakat awam bingung melihat orang yang sama-sama mengaku membawa dalil tetapi akhlaknya rusak,
* citra ilmu syar’i menjadi buruk karena dibawa dengan jiwa yang tidak dibina,
* sebagian orang akhirnya lari dari kajian karena menyangka agama hanya melahirkan kekerasan sikap.
Karena itu bab ini sangat penting sebagai obat. Umat harus dikembalikan pada pemahaman bahwa ilmu yang benar selalu melahirkan perbaikan jiwa. Kalau justru melahirkan kerusakan adab, berarti ada yang salah pada cara belajar atau cara membawanya.
11. Sikap Seorang Muslim Terhadap Masalah Ini
Sikap yang benar dalam masalah ini harus tegas.
Standar kebenaran dalam Islam adalah Al-Qur’an, Sunnah shahih, dan pemahaman Salaf. Maka penuntut ilmu wajib menuntut ilmu di atas manhaj yang benar dan menghiasi dirinya dengan adab syar’i.
Prinsip tegasnya adalah :
* ilmu syar’i wajib dituntut dengan ikhlas,
* ilmu syar’i wajib melahirkan takwa dan tawadhu’,
* ilmu tanpa adab adalah kekurangan yang berbahaya,
* menjadikan ilmu sebagai tangga dunia adalah penyimpangan niat,
* semangat dakwah tidak boleh mematikan muhasabah diri.
Sikap praktis yang harus dilakukan masyarakat adalah :
1. Pilih rujukan ilmu yang lurus aqidah dan manhajnya.
2. Jangan tertipu oleh kepandaian bicara semata.
3. Nilailah pembawa ilmu juga dari adab, kejujuran, dan kehati-hatiannya.
4. Bagi penuntut ilmu, sibukkan diri dengan memperbaiki niat sebelum sibuk memperbaiki orang lain.
5. Jangan terburu-buru tampil sebelum matang.
6. Jadikan ilmu sebagai jalan memperbaiki diri, bukan alat mencari nilai di mata manusia.
Kesimpulan tegasnya : Seorang Muslim harus yakin bahwa adab dalam menuntut ilmu bukan perkara tambahan, tetapi bagian mendasar dari jalan ilmu itu sendiri.
12. Ringkasan Pelajaran Bab
1. Bab pertama ini menegaskan bahwa penuntut ilmu harus berhias dengan adab yang mulia.
2. Ilmu syar’i adalah ibadah, maka ia harus dituntut dengan niat yang ikhlas.
3. Ciri ilmu yang benar adalah menumbuhkan rasa takut kepada Allah ﷻ.
4. Ilmu tanpa adab bisa berubah menjadi sebab kesombongan dan fitnah.
5. Menjadikan ilmu sebagai alat mencari dunia adalah penyimpangan yang berbahaya.
6. Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan pentingnya adab sebelum dan selama menuntut ilmu.
7. Realita zaman sekarang menunjukkan banyak kerusakan lahir karena ilmu tidak dibarengi pembinaan hati.
13. Evaluasi Pemahaman
1. Apa tema utama Bab 1 ini?
Jawabannya : Tema utamanya adalah pentingnya adab, keikhlasan, dan hiasan batin bagi penuntut ilmu.
2. Mengapa adab diletakkan di awal pembinaan penuntut ilmu?
Jawabannya : Karena adab adalah pondasi yang menjaga ilmu agar menjadi manfaat, bukan fitnah.
3. Apa dalil Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa ulama sejati takut kepada Allah ﷻ?
Jawabannya : QS. Fathir: 35:28.
4. Hadits apa yang menjadi dasar pentingnya niat dalam menuntut ilmu?
Jawabannya : Hadits “amal-amal itu tergantung niatnya” dalam HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, shahih.
5. Apa bahaya menuntut ilmu untuk tujuan dunia?
Jawabannya : Itu merusak keikhlasan, menghilangkan keberkahan ilmu, dan mendapat ancaman keras dalam hadits.
6. Apa tanda bahwa ilmu seseorang tidak membawa manfaat sempurna?
Jawabannya : Bila ilmunya tidak menumbuhkan takut kepada Allah ﷻ, tawadhu’, dan perbaikan akhlak.
7. Mengapa media sosial sering memperparah kerusakan adab penuntut ilmu?
Jawabannya : Karena budaya tampil, debat, dan mencari validasi sering lebih kuat daripada budaya belajar, sabar, dan muhasabah.
8. Apakah kepandaian bicara otomatis menunjukkan kedalaman ilmu?
Jawabannya : Tidak. Ukuran utama bukan kefasihan bicara, tetapi kebenaran ilmu, lurusnya manhaj, dan baiknya adab.
9. Apa sikap praktis penuntut ilmu setelah memahami bab ini?
Jawabannya : Memperbaiki niat, menjaga adab, tidak tergesa tampil, dan menjadikan ilmu sebagai sarana memperbaiki diri.
10. Apa kesimpulan besar dari bab ini?
Jawabannya : Ilmu yang benar harus menghiasi pembawanya dengan adab, keikhlasan, dan rasa takut kepada Allah ﷻ.
14. Nasihat Penutup dan Doa
Wahai penuntut ilmu, jangan tertipu dengan banyaknya bahan bacaan, banyaknya forum, atau banyaknya orang yang mendengar ucapanmu. Ukuran keselamatan bukan itu. Ukuran keselamatan adalah: apakah ilmu itu membuatmu semakin tunduk kepada Allah ﷻ, semakin takut kepada-Nya, semakin jujur kepada diri sendiri, dan semakin berhati-hati dalam berbicara tentang agama-Nya.
Jangan sibuk ingin terlihat berilmu sebelum sibuk menjadi hamba yang ikhlas. Jangan sibuk ingin memperbaiki semua orang sebelum serius memperbaiki hati sendiri. Ilmu yang diberkahi bukan yang paling ramai, tetapi yang paling menundukkan h
Komentar
Posting Komentar