📚 Banyak Shalawat Beredar, Tapi Tidak Semua Sesuai Sunnah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Yang paling berbahaya bukan sekadar tidak tahu, tetapi merasa sudah benar padahal belum pernah menimbangnya dengan dalil.
(Artikel 1.509 = 31/01/2026, Ba'da Dzuhur)
📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
📥 WhatsApp Grup 2 Dakwah Tauhid : https://chat.whatsapp.com/EM91hf2UDojFAFKWnNdGJ1
🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel
▶️ YouTube (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
📑 Ebook Terbaru (UFA) : Rambu-Rambu Dakwah : https://s.id/RambuDakwah
📚 Banyak Shalawat Beredar, Tapi Tidak Semua Sesuai Sunnah
(Jawaban pertanyaan tentang “shalawat Mihrab al-Arwah” dan “shalawat ad-Darajah wal-Wasilah”)
📖 Pembukaan
Semangat bershalawat itu baik. Tetapi dalam agama, semangat saja tidak cukup.
Yang benar bukan sekadar banyaknya amalan, tetapi apakah amalan itu memang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ atau tidak.
Di masyarakat, banyak sekali nama-nama shalawat beredar. Sebagian dibaca rutin, sebagian diyakini punya keutamaan khusus, sebagian lagi dianggap pasti sunnah hanya karena namanya “shalawat”. Di sinilah banyak orang tertipu. Tidak setiap bacaan yang diberi nama shalawat otomatis menjadi sunnah.
1. Masalah yang sedang dibahas
Pertanyaannya bukan : bolehkah bershalawat kepada Nabi ﷺ ?
Itu jelas disyariatkan.
Pertanyaannya adalah : apakah shalawat-shalawat tertentu yang diberi nama khusus, seperti “Mihrab al-Arwah” atau “ad-Darajah wal-Wasilah”, benar-benar berasal dari Nabi ﷺ dan sesuai sunnah ?
Ini penting. Karena banyak orang awam berpikir :
* kalau isinya pujian kepada Nabi ﷺ, pasti baik,
* kalau sering dibaca banyak orang, pasti benar,
* kalau ada ustadz atau kelompok tertentu yang mengamalkan, pasti punya dasar.
Padahal dalam ibadah, ukuran benar bukan perasaan, bukan kebiasaan, dan bukan banyaknya pengamal. Ukurannya adalah dalil.
2. Dalil Utama
Allah ﷻ berfirman : “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Rasulullah ﷺ ketika ditanya para sahabat tentang bagaimana cara bershalawat kepada beliau, beliau mengajarkan :
“Ucapkanlah : Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Bukhari no. 6357, Muslim no. 406, shahih)
Rasulullah ﷺ juga bersabda : “Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim no. 1718, shahih)
3. Penjelasan Dalil
A. Shalawat kepada Nabi ﷺ memang diperintahkan
Tidak ada keraguan dalam hal ini. Bershalawat kepada Nabi ﷺ adalah ibadah yang agung dan mulia.
B. Cara bershalawat dijelaskan oleh Nabi ﷺ sendiri
Ketika para sahabat bertanya “bagaimana caranya ?”, Nabi ﷺ tidak membiarkan mereka membuat sendiri. Beliau mengajarkan lafazh yang ma’tsur.
Ini menunjukkan bahwa dalam ibadah, bukan hanya tujuan yang penting, tetapi juga cara.
C. Amalan ibadah yang tidak ada tuntunannya tertolak
Hadits Muslim no. 1718 sangat jelas. Kalau suatu bentuk ibadah, dzikir, atau shalawat dibuat-buat lalu disandarkan seolah-olah sunnah, padahal tidak ada dalilnya, maka itu tertolak.
4. Kaidah penting : Ibadah itu tauqifiyyah
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan satu kaidah besar : asal dalam ibadah adalah menunggu dalil, bukan membuat-buat.
Imam Asy-Syathibi rahimahullah (w. 790 H) dalam Al-I’tisham menjelaskan maknanya bahwa ibadah dibangun di atas ittiba’, bukan ibtida’ — dibangun di atas mengikuti, bukan mengada-adakan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H) dalam Majmu’ Al-Fatawa menjelaskan maknanya bahwa asal ibadah adalah tauqif, yaitu tidak disyariatkan sesuatu pun darinya kecuali dengan dalil dari Allah ﷻ dan Rasul-Nya.
Maka, siapa yang membuat bentuk shalawat tertentu, lalu :
* memberinya nama khusus,
* mengkhususkannya dengan jumlah tertentu,
* mengaitkannya dengan waktu tertentu,
* atau menyebut punya fadhilah khusus,
* maka dia wajib membawa dalil.
Kalau tidak ada dalil, maka tidak boleh disebut sunnah.
5. Bagaimana dengan “shalawat Mihrab al-Arwah” ?
Setahu saya, tidak ada dalil shahih yang menunjukkan bahwa “shalawat Mihrab al-Arwah” adalah shalawat ma’tsur dari Nabi ﷺ.
Karena itu, tidak boleh dikatakan sebagai shalawat sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ, kecuali ada bukti yang sahih dan jelas.
Kalau ada orang membacanya sebagai bacaan buatan manusia, itu satu pembahasan.
Tetapi kalau dia :
* menisbatkannya ke sunnah,
* melazimkannya,
* atau meyakini ada keutamaan khusus tanpa dalil,
* maka itu bermasalah.
Nama ini tidak saya ketahui berasal dari sunnah yang shahih. Maka jangan aman merasa ini ibadah ma’tsurah dari Nabi ﷺ.
6. Bagaimana dengan “shalawat ad-Darajah wal-Wasilah”?
Di sini perlu dibedakan.
A. Kalau yang dimaksud adalah doa setelah azan
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa setelah azan : “Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan didirikan, berikanlah kepada Muhammad al-wasilah dan al-fadhilah, dan bangkitkanlah beliau pada maqam terpuji yang telah Engkau janjikan.” (HR. Bukhari no. 614, shahih)
Ini jelas sunnah.
Tetapi ini adalah doa setelah azan, bukan “nama shalawat khusus” yang berdiri sendiri sebagai ritual tersendiri.
B. Kalau yang dimaksud adalah suatu formula khusus yang beredar dengan nama “shalawat ad-Darajah wal-Wasilah”
Maka hukumnya kembali ke kaidah tadi : kalau tidak ada dalil shahih yang menetapkannya sebagai sunnah khusus, maka tidak boleh disandarkan kepada Nabi ﷺ sebagai amalan sunnah ma’tsurah.
* Yang jelas-jelas sunnah adalah doa setelah azan yang shahih.
* Adapun nama-nama shalawat yang beredar dengan tambahan tertentu, maka harus diteliti satu per satu.
* Jangan langsung dianggap sunnah hanya karena namanya bagus.
7. Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat
A. Menyamakan semua shalawat
Seolah-olah semua lafazh yang berisi pujian kepada Nabi ﷺ otomatis sama nilainya. Ini salah.
Yang paling utama dan paling aman adalah yang diajarkan Nabi ﷺ sendiri.
B. Menganggap banyak pengamal = benar
Ini juga keliru.
Kebenaran tidak diukur dari banyaknya orang yang membaca, tapi dari dalilnya.
C. Mengaitkan keutamaan khusus tanpa dalil
Misalnya mengatakan :
* kalau baca ini sekian kali dapat ini,
* kalau baca itu malam tertentu dapat ini,
* kalau shalawat ini lebih tinggi dari yang Nabi ajarkan, semua ini butuh dalil.
Kalau tidak ada dalil, itu klaim kosong dalam agama.
D. Tidak membedakan antara doa mubah dan sunnah ma’tsurah
Seseorang bisa saja berdoa kepada Allah ﷻ dengan lafazh baik yang tidak menyalahi syariat.
Tetapi itu berbeda dengan mengatakan : “ini bacaan sunnah dari Nabi ﷺ”.
Perbedaan ini harus jelas.
8. Tambahan penting : waspadai ghuluw dalam sebagian shalawat
Rasulullah ﷺ bersabda : “Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari no. 3445, shahih)
Hadits ini menjadi pagar penting.
Sebagian bacaan yang disebut “shalawat” ternyata berisi :
* pujian berlebihan,
* lafazh yang melampaui batas,
* bahkan kadang mengandung istighatsah kepada Nabi ﷺ,
* atau memberi Nabi ﷺ sifat-sifat yang bukan hak beliau.
Kalau sampai isinya seperti itu, maka masalahnya bukan lagi sekadar “tidak sesuai sunnah”, tapi bisa masuk kepada ghuluw, bahkan bisa menyeret kepada syirik sesuai kandungan lafazhnya.
Karena itu, setiap bacaan yang diberi nama “shalawat” harus ditimbang dengan dua timbangan :
1. apakah ada dalilnya ?
2. apakah isinya selamat dari ghuluw dan penyimpangan aqidah ?
9. Lalu apa yang sebaiknya diamalkan ?
Kalau ingin aman, kuat, dan benar-benar sesuai sunnah, maka amalkan shalawat-shalawat yang shahih dari Nabi ﷺ, terutama :
A. Shalawat Ibrahimiyyah
Sebagaimana dalam hadits Bukhari no. 6357 dan Muslim no. 406.
B. Memperbanyak shalawat secara umum
Rasulullah ﷺ bersabda : “Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408, shahih)
3. Doa setelah azan
Yang di dalamnya ada permintaan al-wasilah dan al-fadhilah untuk Nabi ﷺ (HR. Bukhari no. 614, shahih)
10. Sikap praktis yang benar
Kalau ditanya : “Apakah shalawat Mihrab al-Arwah dan ad-Darajah wal-Wasilah sesuai sunnah?”
Maka jawabannya :
* asal bershalawat kepada Nabi ﷺ memang ibadah yang agung
* tetapi nama-nama shalawat khusus yang tidak ada dalil shahihnya tidak boleh disebut sunnah ma’tsurah
* yang aman adalah mencukupkan diri dengan shalawat-shalawat yang diajarkan Nabi ﷺ
* jangan melazimkan bacaan tertentu tanpa dalil
* jangan meyakini fadhilah khusus tanpa nash
* jangan menerima semua bacaan yang beredar hanya karena populer
11. Ringkasannya
* Tidak semua yang diberi nama “shalawat” otomatis menjadi sunnah.
* Dalam ibadah, yang paling aman bukan yang paling terkenal di masyarakat, tetapi yang paling jelas dalilnya dari Rasulullah ﷺ.
12. Kesimpulan
1. Bershalawat kepada Nabi ﷺ adalah ibadah yang agung dan disyariatkan.
2. Cara terbaik bershalawat adalah dengan lafazh-lafazh yang diajarkan Nabi ﷺ sendiri.
3. “Shalawat Mihrab al-Arwah” setahu saya tidak ada dasar shahih yang menetapkannya sebagai sunnah ma’tsurah.
4. Kalau yang dimaksud “ad-Darajah wal-Wasilah” adalah doa setelah azan, maka itu sunnah. Tetapi itu doa setelah azan, bukan nama ritual shalawat khusus yang bebas dikembangkan.
5. Jangan melazimkan bacaan shalawat tertentu dengan keyakinan khusus tanpa dalil.
6. Yang paling selamat adalah berpegang pada shalawat-shalawat shahih yang ma’tsur dari Nabi ﷺ.
13. Penutup
Saudaraku, cinta kepada Nabi ﷺ itu bukan dengan membuat-buat lafazh baru lalu menisbatkannya kepada agama.
Cinta yang benar adalah mengikuti beliau, bukan mendahului beliau.
Kalau kita benar-benar ingin dekat kepada Rasulullah ﷺ, maka cukupkan diri dengan apa yang beliau ajarkan. Di situlah keberkahan, keamanan, dan keselamatan agama.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Nabi ﷺ dengan cinta yang benar, memperbanyak shalawat sesuai sunnah, dijauhkan dari bid’ah dan ghuluw, serta dimatikan di atas tauhid dan ittiba’. Aamiin.
----------
Mari perbaiki cara beragama sebelum kematian datang. Jangan tunggu nanti, karena tidak ada yang tahu kapan kesempatan terakhir untuk bertaubat. Semoga Allah ﷻ husnul khatimahkan kita. Aamiin.
Wallahu A'lam 🤲.
Komentar
Posting Komentar