✍️ Jawaban pertanyaan : Istri Menopang Biaya Hidup Keluarga, Suami Hasilnya Kurang
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Tidak semua yang sudah biasa dilakukan manusia berarti benar di sisi Allah ﷻ. Yang benar adalah apa yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
(Artikel 1.511 = 31/01/2026, Ba'da Magrib)
📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
📥 WhatsApp Grup 2 Dakwah Tauhid : https://chat.whatsapp.com/EM91hf2UDojFAFKWnNdGJ1
🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel
▶️ YouTube (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
📑 Ebook Terbaru (UFA) : Rambu-Rambu Dakwah : https://s.id/RambuDakwah
✍️ Jawaban pertanyaan : Istri Menopang Biaya Hidup Keluarga, Suami Hasilnya Kurang
Dalam Islam, nafkah keluarga pada asalnya adalah kewajiban suami. Jika istri membantu biaya hidup karena suami penghasilannya kurang, maka itu boleh dan bisa menjadi amal besar bagi istri. Tetapi kewajiban nafkah tetap berada di pundak suami sesuai kemampuannya.
Allah ﷻ berfirman : “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang Allah berikan kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 7)
Ayat ini menunjukkan bahwa suami wajib memberi nafkah, tetapi sesuai kemampuan. Kalau suami benar-benar sudah berusaha halal, tidak malas, tidak boros, tidak menelantarkan keluarga, namun hasilnya masih kecil, maka itu ujian. Istri boleh membantu, dan bantuan itu bernilai pahala insyāAllah.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang seorang wanita yang ingin bersedekah kepada suaminya yang membutuhkan, bahwa ia mendapat pahala sedekah dan pahala menyambung hubungan keluarga. (HR. Bukhari no. 1466 dan Muslim no. 1000, shahih).
Jadi, jika istri membantu suami dan anak-anak dengan ikhlas, itu bukan hina. Itu bisa menjadi amal besar. Tetapi suami juga tidak boleh menjadikan kebaikan istri sebagai alasan untuk santai, malas, atau lepas tanggung jawab.
Yang perlu diluruskan :
* Uang istri tetap milik istri.
* Suami tidak boleh mengambil atau mengatur harta istri seenaknya tanpa ridha.
* Jika istri membantu kebutuhan rumah, sebaiknya jelas : apakah itu sedekah, hibah, bantuan keluarga, atau pinjaman yang nanti dikembalikan jika mampu.
* Kejelasan ini penting agar tidak menjadi luka batin.
Adapun istri yang sering ngambek, ini perlu dilihat sebabnya. Kalau ia merasa capek, tertekan, kurang dihargai, atau merasa memikul beban sendirian, maka suami harus peka. Jangan hanya berkata, “Sabar,” tetapi suami juga harus menunjukkan tanggung jawab, berterima kasih, membantu pekerjaan rumah, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, dan terus mencari jalan rezeki halal.
Namun istri juga perlu menjaga lisan dan hati. Jangan terus mengungkit-ungkit bantuan sampai suami merasa direndahkan. Menasihati boleh, menyampaikan lelah boleh, meminta suami lebih serius boleh, tetapi jangan sampai berubah menjadi hinaan, merendahkan, atau merusak kehormatan suami.
Solusi praktisnya :
* duduk berdua dengan tenang,
* hitung kebutuhan bulanan,
* hitung pemasukan suami dan istri,
* pisahkan kebutuhan wajib dan keinginan,
* buat kesepakatan pembagian tanggung jawab,
* dan suami harus punya ikhtiar nyata untuk memperbaiki nafkah.
Istri boleh membantu sesuai kemampuan, tetapi jangan sampai seluruh beban dibiarkan jatuh ke istri.
Kesimpulannya :
* Ini bisa menjadi ujian bagi suami dan istri.
* Suami diuji tanggung jawab, kesungguhan, dan amanahnya.
* Istri diuji kesabaran, keikhlasan, dan adabnya.
* Rumah tangga tidak dibangun dengan saling menyalahkan, tetapi dengan taqwa, musyawarah, saling menghargai, dan bersama-sama mencari rezeki halal.
Semoga Allah ﷻ melapangkan rezeki keluarga yang bertanya tersebut, melembutkan hati suami dan istri, serta menjadikan rumah tangga mereka penuh keberkahan.
----------
Kesimpulannya, jangan ukur agama dengan perasaan dan kebiasaan. Ukurlah dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Semoga Allah ﷻ membimbing kita kepada kebenaran. Aamiin.
Wallahu A'lam 🤲.
Komentar
Posting Komentar