📌 Pertanyaan terkait hal dibawah ini :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Tidak semua yang ramai diikuti manusia itu benar. Dan tidak semua yang terasa akrab di masyarakat itu diridhai oleh Allah ﷻ. Maka ukuran kita harus jelas : wahyu atau kebiasaan ?
(Artikel 1.453 = 20/01/2026, Ba'da Dhuha)
📢 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
📥 WhatsApp Grup 2 Dakwah Tauhid : https://chat.whatsapp.com/EM91hf2UDojFAFKWnNdGJ1
🌐 Website Dakwah Tauhid : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel
▶️ YouTube (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
📑 Ebook Terbaru (UFA) : Rambu-Rambu Dakwah : https://s.id/RambuDakwah
📌 Pertanyaan terkait hal dibawah ini :
1. Bukti sejarah penulisan di zaman Nabi ﷺ
Sudah jelas dari hadits : Zaid bin Tsabit adalah penulis wahyu. Medianya pelepah kurma, tulang, kulit, batu. Jadi sudah ditulis sejak wahyu turun, 13 tahun sebelum hijrah sampai 10 H.
2. Mushaf Abu Bakar 12 H / 633 M
Baru setahun setelah Nabi wafat, Al-Qur'an sudah dikumpulkan jadi 1 mushaf lengkap karena banyak penghafal gugur di Perang Yamamah. Mushaf ini disimpan Abu Bakar, lalu Umar, lalu Hafsah.
3. Mushaf Utsmani 25 H / 646 M
Utsman bin Affan menyalin mushaf Abu Bakar jadi beberapa salinan resmi dan dikirim ke Mekah, Syam, Kufah, Basrah. Salinan selain itu dibakar biar seragam. Ini 1298 tahun sebelum 1924.
4. Manuskrip tua yang masih ada sampai sekarang
* Mushaf Utsmani di Topkapi Turki & Tashkent Uzbekistan, dari abad ke-7 M
* Mushaf Sana'a di Yaman, ditulis tahun 50-70 H
* Birmingham Quran pakai kulit dari zaman Nabi ﷺ, karbon dating 568-645 M
* Semua ini jauh sebelum 1924.
5. Lalu kenapa ada angka 1924?
Tahun 1924 itu Mushaf Kairo atau Mushaf Fuad, dicetak di Mesir. Itu bukan "baru nulis Al-Qur'an". Tapi cuma salah satu edisi cetak dengan rasm Utsmani dan harakat lengkap biar seragam untuk percetakan modern. Isinya sama persis dengan mushaf-mushaf yang sudah ada 1300 tahun sebelumnya. Cuma beda di tanda baca & tata letak biar mudah dibaca awam.
Logika sederhana:
Kalau Al-Qur'an baru ditulis 1924, lantas ulama-ulama tafsir kayak Ibnu Katsir 774 H, Imam Syafi'i 204 H, Imam Bukhari 256 H itu nafsirin apa? Mereka semua hidup 1000 tahun sebelum 1924 dan kitab tafsirnya masih ada sampai sekarang isinya merujuk ayat Al-Qur'an yang sama.
Al-Qur'an dijamin Allah keasliannya sejak turun: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.” QS. Al-Hijr: 9.
📢 Jawabannya :
Tulisan di atas pada dasarnya benar arah besarnya, dan memang itulah jawaban yang lurus terhadap syubhat yang mengatakan seolah-olah Al-Qur’an baru “ditulis” pada tahun 1924.
Tetapi agar lebih kuat dan lebih aman secara ilmiah, pembahasannya perlu dirapikan dengan pembedaan yang jelas antara :
1. wahyu ditulis pada masa Nabi ﷺ,
2. Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu,
3. mushaf diseragamkan dan disalin resmi pada masa ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu,
4. lalu pada masa modern dicetak dengan standar tertentu untuk memudahkan pendidikan dan percetakan.
Kalau empat hal ini tidak dibedakan, orang mudah terkecoh oleh permainan istilah.
1. Inti masalahnya: “ditulis”, “dikumpulkan”, “diseragamkan”, dan “dicetak” itu bukan satu hal yang sama
Banyak syubhat lahir karena orang mencampur empat istilah ini.
* Ditulis : ayat-ayat Al-Qur’an sudah ditulis sejak zaman Nabi ﷺ masih hidup.
* Dikumpulkan : setelah Nabi ﷺ wafat, ayat-ayat yang sudah ditulis dan dihafal itu dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu.
* Diseragamkan : pada masa ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, mushaf itu disalin menjadi beberapa mushaf imam untuk menyatukan kaum muslimin dalam rasm resmi.
* Dicetak : pada masa modern, mushaf dicetak dengan mesin cetak dan standar ejaan/harakat tertentu agar mudah dipelajari dan seragam secara pendidikan.
Jadi, tahun 1924 bukan tahun “mulai ditulisnya Al-Qur’an”, tetapi hanya salah satu fase pencetakan modern.
2. Al-Qur’an sudah ditulis sejak zaman Rasulullah ﷺ
Ini poin pertama yang harus ditegaskan.
Allah ﷻ berfirman : “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Allah ﷻ juga berfirman : “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah pengumpulannya dan pembacaannya.” (QS. Al-Qiyamah: 17)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa penjagaan Al-Qur’an adalah janji Allah ﷻ.
Penjagaan itu terjadi dengan dua jalan besar :
* hafalan di dada para sahabat
* penulisan wahyu
Di masa Nabi ﷺ ada para penulis wahyu, di antaranya Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Ketika Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu memerintahkan pengumpulan Al-Qur’an, Zaid berkata :
“Lalu aku menelusuri Al-Qur’an dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, batu-batu tipis, tulang belikat, dan dari hafalan manusia.” (HR. Al-Bukhari no. 4986, shahih)
Hadits ini sangat penting. Kenapa ? Karena ia membuktikan bahwa :
* Al-Qur’an sudah ada dalam bentuk tulisan sebelum masa Abu Bakr,
* tulisan itu tersebar pada berbagai media yang tersedia saat itu,
* dan pengumpulan mushaf Abu Bakr bukan menulis dari nol, tetapi menghimpun yang sudah ada.
Jadi, orang yang mengatakan “Al-Qur’an baru ditulis belakangan” berarti bertentangan dengan riwayat shahih ini.
3. Kenapa pada masa Nabi ﷺ belum dibukukan jadi satu mushaf lengkap ?
Karena pada masa itu wahyu masih terus turun.
* Kadang turun ayat baru.
* Kadang turun surat baru.
* Kadang Nabi ﷺ menjelaskan letak ayat pada surat tertentu.
Selama wahyu belum selesai, maka mushaf final dalam satu bentuk baku belum dibukukan seperti setelah wafat beliau ﷺ.
Ini logis dan sangat mudah dipahami.
* Ibarat seorang guru masih terus mendiktekan materi pelajaran sampai akhir semester, maka buku final belum disusun sebelum seluruh materi selesai.
* Setelah semua pelajaran selesai, barulah dikumpulkan menjadi satu buku yang lengkap.
Maka pada masa Nabi ﷺ :
* Al-Qur’an ditulis
* Al-Qur’an dihafal
* Al-Qur’an dikontrol langsung oleh Nabi ﷺ
tetapi belum dikumpulkan dalam satu mushaf final karena wahyu belum selesai turun
Setelah Nabi ﷺ wafat, barulah fase pengumpulan mushaf dimulai.
4. Mushaf Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu : fase pengumpulan resmi
Setelah Perang Yamamah, banyak penghafal Al-Qur’an gugur. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu khawatir bila penghafal banyak wafat, sementara Al-Qur’an belum dihimpun dalam satu mushaf resmi.
Lalu Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu untuk mengumpulkannya.
Inilah fase yang dijelaskan dalam hadits Al-Bukhari tadi. Zaid tidak asal menulis dari hafalan pribadi, tetapi menelusuri :
* tulisan-tulisan yang sudah ada,
* hafalan para sahabat,
* dan standar yang sangat hati-hati.
Mushaf ini kemudian disimpan :
* oleh Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu,
* lalu Umar radhiyallahu ‘anhu,
* lalu Hafshah binti Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Jadi, mushaf Abu Bakr adalah fase penghimpunan resmi pertama, bukan awal mula Al-Qur’an ada.
5. Mushaf ‘Utsmani : fase penyeragaman resmi, bukan penciptaan baru
Ketika Islam meluas, kaum muslimin datang dari berbagai wilayah. Maka muncul kekhawatiran perbedaan dalam cara membaca dan penulisan akan menimbulkan perselisihan.
Pada masa ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, mushaf Abu Bakr dijadikan acuan untuk menyalin mushaf-mushaf resmi. Lalu dikirim ke beberapa wilayah agar umat bersatu di atas rasm (catatan) yang resmi.
Ini juga bukan berarti ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu “membuat Al-Qur’an baru”.
Tidak.
Beliau menyeragamkan mushaf yang sudah dihimpun berdasarkan mushaf Abu Bakr, agar umat tidak pecah.
Maka yang dibakar saat itu bukan “Al-Qur’an yang berbeda isinya”, tetapi lembaran atau mushaf pribadi yang dikhawatirkan menimbulkan perbedaan dalam penulisan atau susunan catatan, sementara mushaf imam sudah resmi ditetapkan.
Jadi, pembakaran itu justru langkah penjagaan, bukan pengrusakan wahyu.
6. Tahun 1924 itu apa sebenarnya ?
Ini poin penting untuk mematahkan syubhat modern.
Tahun 1924 yang sering disebut itu merujuk kepada edisi cetak Mesir yang dikenal dengan Mushaf Kairo atau Mushaf Fu’ad. Ini adalah fase standardisasi percetakan modern, terutama untuk pendidikan resmi di Mesir.
Maka yang harus dipahami :
* 1924 bukan awal penulisan Al-Qur’an
* 1924 bukan awal pengumpulan mushaf
* 1924 bukan awal penyeragaman mushaf
* 1924 hanyalah salah satu fase cetak modern
Isinya bukan “Al-Qur’an baru”, tetapi mushaf yang sudah dikenal umat berabad-abad, ditata agar.:
* seragam dalam cetakan,
* jelas harakatnya,
* dan mudah dipelajari oleh masyarakat modern
Dengan kata lain, 1924 itu urusan percetakan dan standardisasi pendidikan, bukan penciptaan teks Al-Qur’an.
7. Logika sederhana yang sangat menghancurkan syubhat ini
Kalau benar Al-Qur’an baru “ditulis” tahun 1924, maka pertanyaannya :
* Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (w. 204 H) berdalil dengan apa ?
* Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (w. 241 H) menghafal dan berhujjah dengan apa ?
* Imam Al-Bukhari rahimahullah (w. 256 H) menaruh ayat-ayat Al-Qur’an dalam bab-bab shahihnya dengan apa ?
* Imam Ath-Thabari rahimahullah (w. 310 H) menafsirkan apa ?
* Ibn Kathir rahimahullah (w. 774 H) menulis tafsir atas apa ?
Semua ulama itu hidup ratusan tahun sebelum 1924, dan kitab-kitab mereka penuh dengan ayat Al-Qur’an yang sama yang ada di mushaf hari ini.
Maka syubhat “Al-Qur’an baru ada pada 1924” gugur dengan sendirinya, bahkan sebelum masuk ke detail sejarah mushaf.
8. Tentang manuskrip-manuskrip kuno : ini pendukung, bukan fondasi iman
Tulisan diatas juga menyebut manuskrip kuno seperti :
* naskah Sana’a,
* Birmingham Quran,
* Topkapi,
* Tashkent.
Secara umum, keberadaan manuskrip Qur’ani awal memang menjadi bukti sejarah tambahan yang mendukung bahwa Al-Qur’an sudah sangat awal tertulis dan tersebar jauh sebelum zaman modern.
Tetapi di sini ada sikap ilmiah yang harus dijaga :
Pertama : Kita tidak menggantungkan iman kepada Al-Qur’an pada hasil laboratorium modern.
Karena keaslian Al-Qur’an sudah ثابت dengan :
* janji Allah ﷻ,
* tawatur umat,
* hafalan berjamaah,
* riwayat sahabat,
* dan sejarah mushaf.
Kedua : Dalam menyebut manuskrip, kita harus jujur dan hati-hati.
Yang paling aman adalah mengatakan.:
* ada manuskrip Qur’ani awal yang sangat tua
* ada bukti naskah sebelum zaman modern
* ini mendukung sejarah penjagaan Al-Qur’an
Tetapi jangan terlalu mudah memastikan rincian yang belum benar-benar kita kuasai, misalnya menegaskan tanpa syarat bahwa satu mushaf tertentu pasti mushaf pribadi ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu.
Yang lebih aman : dinisbatkan atau dikaitkan secara tradisional dengan masa awal Islam, dan itu sudah cukup sebagai bukti pendukung.
Ketiga : Tentang Birmingham Quran, yang lebih aman dikatakan :
* hasil karbon dating menunjukkan kulitnya berasal dari masa yang sangat awal,
* ini memperkuat kemungkinan penulisan Qur’an pada masa awal Islam,
* tetapi yang paling pokok tetap bukan itu, melainkan riwayat shahih dan tawatur umat.
Jadi, manuskrip itu penguat, bukan fondasi utama keyakinan kita.
9. Apa sikap yang benar saat menghadapi syubhat seperti ini ?
Sikap yang benar ada beberapa :
a. Bedakan istilah dengan benar
Jangan campur :
* ditulis
* dikumpulkan
* diseragamkan
* dicetak
Kalau ini dibedakan, syubhat langsung runtuh.
b. Kembalikan ke dalil dan riwayat shahih
Bukan ke propaganda media sosial.
c. Jangan minder dengan isu modern
Karena sejarah mushaf Al-Qur’an justru termasuk sejarah teks agama yang paling kuat penjagaannya.
d. Jangan berlebihan dalam klaim yang belum pasti
Kalau ada rincian sejarah yang belum kita kuasai, cukup sampaikan yang aman dan kuat.
e. Tanamkan kepada masyarakat bahwa Al-Qur’an dijaga dengan dua benteng
* hafalan
* tulisan
Bukan salah satunya saja.
10. Solusi cara menjelaskan kepada orang awam
Ringkasan penjelasan kepada masyarakat, urutannya ini :
1. Al-Qur’an sudah ditulis sejak zaman Nabi ﷺ
2. Sesudah Nabi ﷺ wafat, Abu Bakr mengumpulkannya dalam satu mushaf
3. ‘Utsman menyalin dan menyeragamkan mushaf resmi
4. 1924 hanya salah satu edisi cetak modern, bukan awal Al-Qur’an ada
Dengan susunan ini, orang awam akan langsung paham.
11. Kesimpulannya
* Benar, Al-Qur’an sudah ditulis sejak masa Rasulullah ﷺ masih hidup.
* Benar, pada masa Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu Al-Qur’an dihimpun dalam satu mushaf resmi.
* Benar, pada masa ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu mushaf itu diseragamkan dan disalin ke beberapa wilayah.
* Benar, tahun 1924 hanyalah fase pencetakan modern Mushaf Kairo, bukan awal penulisan Al-Qur’an.
Manuskrip-manuskrip kuno menjadi penguat sejarah, tetapi pondasi keyakinan kita tetap : janji Allah ﷻ, riwayat shahih, dan tawatur umat.
Jadi, syubhat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an baru “ditulis” pada 1924 adalah ucapan batil, karena bertentangan dengan :
* Al-Qur’an,
* Sunnah shahih,
* pemahaman sahabat,
* sejarah mushaf,
* dan akal yang sehat.
Semoga Allah ﷻ meneguhkan kita di atas Al-Qur’an, memberi kita pemahaman yang lurus tentang sejarah penjagaannya, menjadikan kita termasuk ahlul Qur’an yang membaca, memahami, mengamalkan, dan mendakwahkannya, serta melindungi kita dari syubhat yang menyesatkan. Aamiin.
----------
Betapa banyak manusia menyesal bukan karena dulu tidak pernah mendengar kebenaran, tetapi karena pernah mendengarnya lalu menolaknya. Semoga Allah ﷻ melindungi kita dari penyesalan semacam itu.
Wallahu A'lam 🤲.
Komentar
Posting Komentar