⚡ KETIKA SEMUA ORANG BISA MEMBANTAH
Bismillahirrahmanirrahim
(Artikel 1.623 = 06/05/2026)
📣 Saluran Dakwah Tauhid : https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P
📥 WhatsApp Grup 2 : https://chat.whatsapp.com/EM91hf2UDojFAFKWnNdGJ1
💻 Website : https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/
⁉️ Tanya - Jawab : Balas Artikel
▶️ YouTube (UFA) : https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos
🅰️ Aplikasi Bekal Islam (UFA) : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam
📑 Ebook Terbaru (UFA) : Rambu-Rambu Dakwah : https://s.id/RambuDakwah
--------
⚡ KETIKA SEMUA ORANG BISA MEMBANTAH
Di zaman media sosial, internet dan Artificial Intelligence, hampir siapa pun bisa membuat jawaban yang terdengar meyakinkan.
Satu argumen dibantah, muncul bantahan baru. Dibalas lagi, muncul jawaban berikutnya. Kalau ukurannya hanya “siapa yang masih bisa menjawab”, perdebatan tidak akan pernah selesai.
Karena itu, agama tidak boleh diukur dari siapa yang paling pintar berdebat, siapa ustaznya, apa kelompoknya, atau Google siapa yang jawabannya paling panjang.
Allah ﷻ telah memberikan standar :
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kalian berselisih tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa’: 59)
Maka ketika berbeda pendapat, tanyakan :
* Apa dalilnya ?
* Apakah sahih ?
* Apa maknanya ?
* Adakah dalil lain yang membatasi ?
* Bagaimana para Sahabat dan Salaf memahaminya ?
Kalau memang ada khilaf ulama, akui khilafnya. Tetapi adanya khilaf tidak berarti semua pendapat otomatis sama kuat.
Kalau tokoh yang kita sukai ternyata keliru, jangan dipaksakan untuk dibela. Kalau orang yang biasa berbeda dengan kita ternyata benar pada satu titik, akui kebenarannya.
Dan kalau perdebatan hanya mengulang tuduhan lama dengan kalimat baru tanpa membawa bukti baru, tidak perlu diteruskan tanpa akhir.
* Kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang terakhir menjawab.
* Kebenaran diukur dengan hujjah, bukan fanatisme.
Semoga Allah ﷻ membimbing kita untuk mengenal kebenaran, menerimanya, dan mengamalkannya.
Wallahu A'lam.
Komentar
Posting Komentar